#41_“Dan janganlah kalian melampaui batas!”


Download File Audio Kajian (.rm)
_______________________________

Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kesesatan, bantahan-bantahan dan keragu-raguan yang ditimbulkan oleh orang-orang sesat dan ahli bid’ah itu hampir-hampir tidak ada hentinya, karena mereka adalah pengikut bid’ah dan hawa nafsu. Hampir-hampir tidak ada yang bisa menghentikan mereka sampai mereka bertabrakan dengan batu keras realita dan mereka melihat azab yang pedih atau mereka dikejutkan oleh kematian, maka pada saat itulah tidak ada tempat untuk kembali dan menyesal. Kami berdoa kepada Allah semoga melindungi kami dan kalian dari fitnah-fitnah yang mendatangkan kesesatan.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Adapun Abu Maryam Al-Mukhlif yang sesat dan para pengikutnya dengan perangainya, pengaburan, kebohongan dan sikap mengada-ada mereka terhadap Allah dan rasul-Nya, juga sikap mereka yang membuat keragu-raguan dan “dongengan-dongengan”, maka itu bukanlah jalan generasi Islam yang shalih tersebut. Justru itu merupakan kesesatan, bid’ah, kefasikan dan keluar dari ajaran dien Islam. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu. Kami berlepas diri darinya dan menjauhinya. Allah Ta’ala berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah engkau (di atas jalan yang benar) sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan juga orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kalian melampaui batas. Sungguh Dia Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Hud [11]: 112)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah”, lalu istiqamahlah.” (HR. Muslim, Ahmad dan lain-lain)

Beliau juga bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ "

“Tiga perkara yang barangsiapa pada dirinya terdapat tiga perkara tersebut niscaya ia akan mendapatkan manisnya keimanan: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari siapapun juga, (2) ia mencintai orang lain semata-mata karena Allah dan (3) ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelematkannya dari kekafiran tersebut sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada perintah untuk istiqamah mengikuti kitabullah dan sunahnya Rasulullah, tidak menyimpang darinya dengan tidak merubah-ubah baik menambah ataupun mengurangi

Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kesesatan, bantahan-bantahan dan keragu-raguan yang ditimbulkan oleh orang-orang sesat dan ahli bid’ah itu hampir-hampir tidak ada hentinya, karena mereka adalah pengikut bid’ah dan hawa nafsu. Hampir-hampir tidak ada yang bisa menghentikan mereka sampai mereka bertabrakan dengan batu keras realita dan mereka melihat azab yang pedih atau mereka dikejutkan oleh kematian, maka pada saat itulah tidak ada tempat untuk kembali dan menyesal. Kami berdoa kepada Allah semoga melindungi kami dan kalian dari fitnah-fitnah yang mendatangkan kesesatan.

Misalnya, Abu Maryam Al-Mukhlif akan mengatakan kepada kalian bahwa apa yang ia dakwahkan adalah bagian dari ajaran agama dan perkara yang wajib diikuti oleh seorang muslim, di mana seorang muslim tidak dianggap istiqamah sampai ia istiqamah di atas ajaran tersebut.

Dan ia tidak akan begini sampai ia begini dan begitu. Begitulah ia akan mengatakan, seperti yang sudah kalian ketahui dan rasakan sendiri dari sikap mereka yang membesar-besarkan perkara dan mengada-ada atas Allah dan agama-Nya.

Mengaku-ngaku bahwa Allah mengajarkan begini-Islam mengajarkan begitu yang sebenarnya perkaranya itu amsih samar. Apa benar bahwa Islam mengajarkan seratus persen seperti itu, apa benar jika tidak mengikuti itu maka dianggap tidak istiqamah diatas agama Islam, diatas tauhid.

Kemudian Syaikh ‘Athiyatullah memberikan nasehat jika kita mendapatkan ‘teror’ seperti itu, seperti “jika tidak begitu maka tidak akan bertauhid”,

Namun cukup bagi kalian perkara-perkara yang jelas dan terang di dalam Kitab Allah, Sunnah Rasul-Nya, jalan hidup para salaf kita yang shalih dan orang-orang yang meniti jejak langkah mereka seperti yang telah kami sebutkan di atas. Katakanlah kepada Abu Maryam Al-Mukhlif: “Sesungguhnya Allah memerintahkan:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

Maka tetaplah engkau (di atas jalan yang benar) sebagaimana telah diperintahkan kepadamu!”

Di manakah gerangan Allah memerintahkan kami dengan apa yang engkau perintahkan, wahai Abu Maryam Al-Mukhlif?! Ia tidak akan menemukan jawaban kecuali mengada-ada, klaim dan comot sana-comot sini cari enaknya yang mana itu semua berguguran!

Syaikh ‘Athiyatullah al Libi mengingatkan kita bahwa kita itu ada perintah dari Allah untuk istiqamah sebagaimana istiqamah yang diperintahkan Allah kepad Rasulullah. Yaitu apa yang sudah jelas di zaman Rasulullah itu yang wajib kita pegang teguh, istiqamah di atasnya. Jangan memperdulikan klaim-klaim orang-orang setelahnya yang tidak jelas dalam Al Qur’an dan Assunah.

Katakanlah oleh kalian kepadanya: “Sesungguhnya Allah memberikan tambahan perintah kepada kami dengan berfirman:

وَلَا تَطْغَو

“Dan janganlah kalian melampaui batas!”

Maksudnya janganlah kalian melampaui batasan yang telah ditetapkan Allah dan agama yang telah dijelaskan oleh-Nya kepada kalian. Sikap melampaui batas biasanya terjadi dengan penambahan dan melewati batasan, namun terkadang juga dengan pengurangan dan meremehkan, karena dua cara tersebut sama-sama menyelisihi (ajaran agama) dan keluar dari batasan.

Atau bisa juga “Dan janganlah kalian melampaui batas!” menunjukkan larangan untuk mengurangi dan meremehkan juga, dari aspek keindahan sastra lainnya, yaitu mencukupkan dengan penyebutan satu lafal (namun mengandung dua makna yang bertolak belakang sekaligus, pent).

Banyak dalam Al Qur’an menyebutkan seperti itu, misalakan Allah menyebutkan shalat tapi yang disebutkan ruku’nya saja, “ruku’lah bersama orang yang ruku’” itu namanya i’tifa’, yaitu menyebutkan shalat tapi cukup dengan menyebutkan salah satu unsur, tuku’nya saja atau sujudnya saja. Dan itu bukan berarti perintahnya untuk ruku’saja, nanti ketika imamnya sujud tidak mau mengikutinya, bukan seperti itu. Begitulah gaya bahasa Al Qur’an, tidak bisa melihat terjemahan Al Qur’an hanya dengan melihat kepada nahwu-sharafnya, tidak melihat balaghahnya. Dan akan kacau-balau memahami ayat jika hanya melihat nahwu-sharafnya saja. Maka penting juga bagi kita belajar balaghah.

Maksudnya, Allah memerintahkan kita untuk istiqamah di atas perkara yang Allah perintahkan kepada kita dan Allah melarang kita untuk keluar darinya dan melampaui batasannya.

Istiqamah menetapi apa yang telah jelas dari Al Qur’an, Assunnah, dan sirah para shalafussalih. Itulah panduan dalam beragama. Kalau setelah itu ada orang-orang yang membuat madzhab-madzhab, pendapat-pendapat, ijtihad-ijtihad maka perlu dikaji ulang. Jika sesuai dengan Al Qur’an, Assunnah, serat shalafussalih maka kita ambil, tapi jika tidak sesuai maka kita tolak sekalipun dia mujtahid, kekeliruannya tidak kita ikuti dan sekalipun kita tidak menganggapnya dia berdosa dengan kekeliruan ijtihadnya tadi. Karena memang ijtihad  jika keliru maka tidak berdosa dan dapat satu pahala.


Allahu'alam.. 

Teks Arab :

وأما شنشنة المخلف الضالّ وأتباعه وتمويههم ودجلهم وافتراؤهم على الله ورسوله، وتشكيكهم وخزعبلاتهم، فهذا ليس من سبيل أولئك، بل هو فتنة وبدعةٌ ومروق وفسوق والعياذ بالله، فنحن منه برءاء وله مجانبون وعنه حائدون، ﴿فاستقم كما أمرتَ ومَن تابَ معكم ولا تطغوا إنه بما تعملون بصير﴾ "قل آمنتُ بالله ثم استقم"(رواه مسلم وأحمد وغيرهما) "ثلاثٌ مَن كن فيه وجدَ بهنّ حلاوة الإيمان: أن يكون اللهُ ورسولُه أحبَّ إليه مما سواهما، وأن يُحبَّ المرءَ لا يحبّه إلا لله، وأن يكرَهَ أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه اللهُ منه كما يكرهُ أن يُقذَفَ في النار"(متفق عليه).
واعلموا أن أهل الضلال والبدع لا تكاد تنقطع فتنتهم واعتراضاتهم وتشكيكاتهم، لأنهم أهل بدعةٍ وهوىً، فلا يكاد يقمعهم شيء حتى يصطدموا بصخرة الواقع ويرون العذابَ الأليمَ أو يفجأهم الموت ولات حينَ مرجع ولا ندم..! نسأل الله أن يقينا وإياكم مضلات الفتن.
فمثلا سيقول لكم المخلف إن ما يدعو إليه هو من الدين ومما يلزم المسلمَ الاستقامةُ عليه، ولا يكون مستقيما حتى يستقيم عليه، ولا يكون كذا إلا بكذا وكذا...هكذا مما تعرفونه وجرّبتموه من تهويلاتهم وافتراءاتهم على الله ودينه.
ولكن أنتم يكفيكم ما هو بيّن واضحٌ في كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم وما عليه سلفنا الصالح ومن سارَ على نهجهم كما ذكرنا، وقولوا له: إن الله تعالى قال: ﴿فاستقم كما أمرِتَ﴾ فأين أمرنا اللهُ تعالى بما تأمُرُ به أنت أيها المخلف، فلن يجدَ جواباً إلا التخريف والادّعاء والتلفيق المتهافت.!
وقولوا له: إن الله تعالى زادنا فقال: ﴿ولا تطغوا﴾ أي لا تجاوزا ما حدّ الله لكم وبيّن لكم من الدين، والطغيان يكون عادة بالزيادة ومجاوزة الحد، وقد يكون بالنقصان والتفريط لأنهما مخالفةٌ وخروجٌ عن الحد، أو يكون دلالة ﴿ولا تطغوا﴾ على النهي عن النقصان والتفريط أيضا من جهة بلاغية أخرى كالاكتفاء.

والمقصود أن الله تعالى أمرَنا أن نستقيم على ما أمرَ به عز وجل، ونهانا عن الخروج عنه ومجاوزته.

About

Here you can share some biographical information next to your profile photo. Let your readers know your interests and accomplishments.