Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya
kesesatan, bantahan-bantahan dan keragu-raguan yang ditimbulkan oleh
orang-orang sesat dan ahli bid’ah itu hampir-hampir tidak ada hentinya, karena
mereka adalah pengikut bid’ah dan hawa nafsu. Hampir-hampir tidak ada yang bisa
menghentikan mereka sampai mereka bertabrakan dengan batu keras realita dan mereka
melihat azab yang pedih atau mereka dikejutkan oleh kematian, maka pada saat
itulah tidak ada tempat untuk kembali dan menyesal. Kami berdoa kepada Allah
semoga melindungi kami dan kalian dari fitnah-fitnah yang mendatangkan
kesesatan.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Adapun Abu Maryam Al-Mukhlif yang
sesat dan para pengikutnya dengan perangainya, pengaburan, kebohongan dan sikap
mengada-ada mereka terhadap Allah dan rasul-Nya, juga sikap mereka yang membuat
keragu-raguan dan “dongengan-dongengan”, maka itu bukanlah jalan generasi Islam
yang shalih tersebut. Justru itu merupakan kesesatan, bid’ah, kefasikan dan
keluar dari ajaran dien Islam. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu. Kami
berlepas diri darinya dan menjauhinya. Allah Ta’ala berfirman:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا
إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka tetaplah engkau (di atas
jalan yang benar) sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan juga orang yang
bertaubat bersamamu, dan janganlah kalian melampaui batas. Sungguh Dia Allah
Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Hud [11]: 112)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah”,
lalu istiqamahlah.” (HR. Muslim, Ahmad dan lain-lain)
Beliau juga bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ:
مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ
الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ
يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ
أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ "
“Tiga perkara yang barangsiapa pada
dirinya terdapat tiga perkara tersebut niscaya ia akan mendapatkan manisnya
keimanan: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari siapapun juga, (2) ia
mencintai orang lain semata-mata karena Allah dan (3) ia benci untuk kembali
kepada kekafiran setelah Allah menyelematkannya dari kekafiran tersebut
sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Ada perintah untuk istiqamah mengikuti
kitabullah dan sunahnya Rasulullah, tidak menyimpang darinya dengan tidak
merubah-ubah baik menambah ataupun mengurangi
Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya
kesesatan, bantahan-bantahan dan keragu-raguan yang ditimbulkan oleh
orang-orang sesat dan ahli bid’ah itu hampir-hampir tidak ada hentinya, karena
mereka adalah pengikut bid’ah dan hawa nafsu. Hampir-hampir tidak ada yang bisa
menghentikan mereka sampai mereka bertabrakan dengan batu keras realita dan
mereka melihat azab yang pedih atau mereka dikejutkan oleh kematian, maka pada
saat itulah tidak ada tempat untuk kembali dan menyesal. Kami berdoa kepada
Allah semoga melindungi kami dan kalian dari fitnah-fitnah yang mendatangkan
kesesatan.
Misalnya, Abu Maryam Al-Mukhlif akan
mengatakan kepada kalian bahwa apa yang ia dakwahkan adalah bagian dari ajaran
agama dan perkara yang wajib diikuti oleh seorang muslim, di mana seorang
muslim tidak dianggap istiqamah sampai ia istiqamah di atas ajaran tersebut.
Dan ia tidak akan begini sampai ia
begini dan begitu. Begitulah ia akan mengatakan, seperti yang sudah kalian
ketahui dan rasakan sendiri dari sikap mereka yang membesar-besarkan perkara
dan mengada-ada atas Allah dan agama-Nya.
Mengaku-ngaku bahwa Allah mengajarkan
begini-Islam mengajarkan begitu yang sebenarnya perkaranya itu amsih samar. Apa
benar bahwa Islam mengajarkan seratus persen seperti itu, apa benar jika tidak
mengikuti itu maka dianggap tidak istiqamah diatas agama Islam, diatas tauhid.
Kemudian Syaikh ‘Athiyatullah memberikan
nasehat jika kita mendapatkan ‘teror’ seperti itu, seperti “jika tidak begitu
maka tidak akan bertauhid”,
Namun cukup bagi kalian perkara-perkara
yang jelas dan terang di dalam Kitab Allah, Sunnah Rasul-Nya, jalan hidup para
salaf kita yang shalih dan orang-orang yang meniti jejak langkah mereka seperti
yang telah kami sebutkan di atas. Katakanlah kepada Abu Maryam Al-Mukhlif:
“Sesungguhnya Allah memerintahkan:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
“Maka tetaplah engkau (di atas
jalan yang benar) sebagaimana telah diperintahkan kepadamu!”
Di manakah gerangan Allah
memerintahkan kami dengan apa yang engkau perintahkan, wahai Abu Maryam
Al-Mukhlif?! Ia tidak akan menemukan jawaban kecuali mengada-ada, klaim dan comot sana-comot
sini cari enaknya yang mana itu semua berguguran!
Syaikh ‘Athiyatullah al Libi mengingatkan
kita bahwa kita itu ada perintah dari Allah untuk istiqamah sebagaimana
istiqamah yang diperintahkan Allah kepad Rasulullah. Yaitu apa yang sudah jelas
di zaman Rasulullah itu yang wajib kita pegang teguh, istiqamah di atasnya.
Jangan memperdulikan klaim-klaim orang-orang setelahnya yang tidak jelas dalam
Al Qur’an dan Assunah.
Katakanlah oleh kalian kepadanya:
“Sesungguhnya Allah memberikan tambahan perintah kepada kami dengan berfirman:
وَلَا تَطْغَو
“Dan janganlah kalian melampaui batas!”
Maksudnya janganlah kalian melampaui
batasan yang telah ditetapkan Allah dan agama yang telah dijelaskan oleh-Nya
kepada kalian. Sikap melampaui batas biasanya terjadi dengan penambahan dan
melewati batasan, namun terkadang juga dengan pengurangan dan meremehkan,
karena dua cara tersebut sama-sama menyelisihi (ajaran agama) dan keluar dari
batasan.
Atau bisa juga “Dan janganlah
kalian melampaui batas!” menunjukkan larangan untuk mengurangi dan
meremehkan juga, dari aspek keindahan sastra lainnya, yaitu mencukupkan dengan
penyebutan satu lafal (namun mengandung dua makna yang bertolak belakang
sekaligus, pent).
Banyak dalam Al Qur’an menyebutkan
seperti itu, misalakan Allah menyebutkan shalat tapi yang disebutkan ruku’nya
saja, “ruku’lah bersama orang yang ruku’” itu namanya i’tifa’, yaitu menyebutkan
shalat tapi cukup dengan menyebutkan salah satu unsur, tuku’nya saja atau
sujudnya saja. Dan itu bukan berarti perintahnya untuk ruku’saja, nanti ketika
imamnya sujud tidak mau mengikutinya, bukan seperti itu. Begitulah gaya bahasa
Al Qur’an, tidak bisa melihat terjemahan Al Qur’an hanya dengan melihat kepada
nahwu-sharafnya, tidak melihat balaghahnya. Dan akan kacau-balau memahami ayat
jika hanya melihat nahwu-sharafnya saja. Maka penting juga bagi kita belajar
balaghah.
Maksudnya, Allah memerintahkan kita
untuk istiqamah di atas perkara yang Allah perintahkan kepada kita dan Allah
melarang kita untuk keluar darinya dan melampaui batasannya.
Istiqamah menetapi apa yang telah jelas
dari Al Qur’an, Assunnah, dan sirah para shalafussalih. Itulah panduan dalam
beragama. Kalau setelah itu ada orang-orang yang membuat madzhab-madzhab,
pendapat-pendapat, ijtihad-ijtihad maka perlu dikaji ulang. Jika sesuai dengan
Al Qur’an, Assunnah, serat shalafussalih maka kita ambil, tapi jika tidak
sesuai maka kita tolak sekalipun dia mujtahid, kekeliruannya tidak kita ikuti
dan sekalipun kita tidak menganggapnya dia berdosa dengan kekeliruan ijtihadnya
tadi. Karena memang ijtihad jika keliru
maka tidak berdosa dan dapat satu pahala.
Allahu'alam..
Teks Arab :
وأما شنشنة المخلف الضالّ
وأتباعه وتمويههم ودجلهم وافتراؤهم على الله ورسوله، وتشكيكهم وخزعبلاتهم، فهذا ليس
من سبيل أولئك، بل هو فتنة وبدعةٌ ومروق وفسوق والعياذ بالله، فنحن منه برءاء وله مجانبون
وعنه حائدون، ﴿فاستقم كما أمرتَ ومَن تابَ معكم ولا
تطغوا إنه بما تعملون بصير﴾ "قل آمنتُ
بالله ثم استقم"(رواه مسلم وأحمد وغيرهما) "ثلاثٌ مَن كن فيه وجدَ بهنّ حلاوة الإيمان: أن يكون اللهُ
ورسولُه أحبَّ إليه مما سواهما، وأن يُحبَّ المرءَ لا يحبّه إلا لله، وأن يكرَهَ أن
يعود في الكفر بعد إذ أنقذه اللهُ منه كما يكرهُ أن يُقذَفَ في النار"(متفق
عليه).
واعلموا أن أهل الضلال
والبدع لا تكاد تنقطع فتنتهم واعتراضاتهم وتشكيكاتهم، لأنهم أهل بدعةٍ وهوىً، فلا يكاد
يقمعهم شيء حتى يصطدموا بصخرة الواقع ويرون العذابَ الأليمَ أو يفجأهم الموت ولات حينَ
مرجع ولا ندم..! نسأل الله أن يقينا وإياكم مضلات الفتن.
فمثلا سيقول لكم المخلف
إن ما يدعو إليه هو من الدين ومما يلزم المسلمَ الاستقامةُ عليه، ولا يكون مستقيما
حتى يستقيم عليه، ولا يكون كذا إلا بكذا وكذا...هكذا مما تعرفونه وجرّبتموه من تهويلاتهم
وافتراءاتهم على الله ودينه.
ولكن أنتم يكفيكم ما هو
بيّن واضحٌ في كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم وما عليه سلفنا الصالح ومن
سارَ على نهجهم كما ذكرنا، وقولوا له: إن الله تعالى قال: ﴿فاستقم كما أمرِتَ﴾ فأين أمرنا اللهُ تعالى بما
تأمُرُ به أنت أيها المخلف، فلن يجدَ جواباً إلا التخريف والادّعاء والتلفيق المتهافت.!
وقولوا له: إن الله تعالى
زادنا فقال: ﴿ولا تطغوا﴾ أي لا تجاوزا ما
حدّ الله لكم وبيّن لكم من الدين، والطغيان يكون عادة بالزيادة ومجاوزة الحد، وقد يكون
بالنقصان والتفريط لأنهما مخالفةٌ وخروجٌ عن الحد، أو يكون دلالة ﴿ولا تطغوا﴾ على النهي عن النقصان والتفريط أيضا
من جهة بلاغية أخرى كالاكتفاء.
والمقصود أن الله تعالى
أمرَنا أن نستقيم على ما أمرَ به عز وجل، ونهانا عن الخروج عنه ومجاوزته.
