#28_Ibnu 'Arobi, Sikap Para Ulama Antara Yang Mengkafirkan Dengan Yang Tidak Mengkafirkan [2]


________________________________

Pendapat para ulama tentang Ibnu 'Arobi

Ulama2 yang tdk mengkafirkan ibnu 'Arobi, beralasan bahwa akal mereka terlalu pendek, lemah dalam memahami ungkapan-ungkapan para sufi.

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Kita lanjutkan tentang sebagian ulama besar tidak mengkafirkanIbnu ‘Arabi, padahal dia itu kata Imam Adz Dzahabi sebagai “Qudwahnya orang-orang yang beraqidah wihhdatul wujud”.

Para ulama tersebut, meski mereka memiliki ilmu yang sangat dalam dan pemahaman yang sangat jeli, namun mereka menjadikan akal mereka terlalu pendek dan terlalu dangkal untuk memahami makna ungkapan-ungkapan orang-orang zindiq. Maka mereka memposisikan dirinya di hadapan ungkapan-ungkapan orang-orang zindiq itu dalam posisi orang yang lemah dan menerima begitu saja, di mana mereka menganggap kebenaran perkataan-perkataan kaum zindiq tersebut adalah hukum pokok yang pasti. Meskipun perkataan-perkataan kaum zindiq tersebut adalah kebohongan dan kekejian belaka.

Para ulama itu menganggap akal mereka tidak mampu menjangkau makna ungkapan mereka, menyerah, menerima bahwa ucapan mereka benar cuma akal ulama itu yang tak mampu menjangkau.
Jika sebagian ulama tersebut mampu melakukan ta’wil atau takhrij (pencarian sumber) terhadap perkataan para zindiq tersebut, niscaya hal itulah yang akan mereka lakukan. Namun jika mereka tidak mampu melakukannya, maka berkomentar: “Kaum (shufi yang zindiq) itu lebih paham dengan apa yang mereka katakan.”

Begitulah sikap orang yang dimana dia bukan orang awam tapi para ulama yang punya ilmu yang dalam dan pemahaman yang cermat sampai berbicara seperti itu. Sebagaimana disebutkan, banyak disebutkan bahwa ulama-ulama besar yang menganggap bahwa Ibnu ‘Arabi itu wali bahkan walinya para wali, syaikh al Akbar. Dan para ulama yang menganggap seperti itu jika kita bacaa kitab-kitab biografi para ulama ternyata banyak sekali.

Lihatlah misalnya kisah yang disebutkan oleh Imam Al-Alusi (seorang mujjadid di Iraq abad 13H, ulama tafsir) saat menceritakan pemimpin kaum zindiq, Ibnu ‘Arabi. Imam Al-Alusi berkata: “Saya telah mendengar sebagian mereka berkata bahwa Asy-Syaikh Al-Akbar Muhyiddin Ibnu ‘Arabi, semoga Allah mensucikan ruhnya, terjatuh dari keledainya, sehingga kakinya terluka. Maka muris-murisnya datang untuk menggotongnya, namun ia mengatakan, “Beri aku waktu sebentar!” Mereka pun memberinya waktu sebentar. Ia lalu memberi izin kepada mereka untuk mengusungnya. Maka ia pun ditanya tentang hal itu. Ia menjawab, “Aku merenungkan kitab Allah, ternyata berita tentang peristiwa ini telah saya dapatkan di dalam surat Al-Fatihah.” Ini adalah perkara yang akal kami tidak mampu menjangkaunya.”

Begitulah kata Imam Al-Alusi.

Ulama ahli tafsir saja sampai begitu, “akal kita tidak mampu menjangkau ilmunya Ibnu ‘Arabi”. Ibnu ‘Arabi itu mempunyai kitab tafsir 30 juz dan hafal Al Qur’an jadi jangan dipikir dia itu orang bodoh.
Kisah ini disebutkan oleh Imam al Alusi ketika menafsirkan firman Allah dalam QS. Al An’am ayat 38, “Dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.”

Dalam ayat itu nanti ada perbedaan pendapat dalam menafsirkan “Al kitab”. Ada yang menafsirkan Al Qur’an, artinya segala sesuatu itu telah Allah sebutkan di dalam Al Qur’an. Dan adaa yang menafsirkannya Lauhful Mahfudz, tidak ada segala sesuatupun kecuali sudah tuliskan di dalam Lauhful Mahfudz. Dan Ibnu ‘Arabi memakai penafsiran yang pertama. Makanya atas kejadian peristiwa dia jatuh dari keledai tadi, dia renungkan dari Al Fatihah. Dan muridnya mengetahui kalau Ibnu ‘Arabi itu hafal Al Qur’an, ahli tafsir ya menurut saja. Dan bahkan sesama ahli tafsir, Imam Alusi juga mengatakan bahwa ini perkara yang akal kita tidak mampu menjangkaunya.

Beberapa komentar para ulama tentang Ibnu ‘Arabi :

-          Imam Adz Dzahabi dalam “Syiar ‘Alam Annubala’” Juz 23 tentang riwayat hidup beliau, beliau mengatakan “Ibnu ‘Arabi adalah seorang ulama besar, pemilik bencana-bencana (pendapat-pendapat sesat yang luar biasa) yang sangat banyak.” Meski Imam Adz Dzahabi mengatakan demikian, namun pertama kali beliauu mengatakan bahwa Ibnu ‘Arabi itu al ‘aalamah/ ulama besar. “Ibnu ‘Arabi adalah orang yang sangat cerdas, banyak ilmunya, banyak menulis karya tentang tasawuf wihdatul wujud.” Dihitung oleh para ulama bahwa karyanya sebagaimana yang disebutkan dalam “Al A’lam” karya Khairuddin az Ziraqli, Ibnu ‘Arabi mengarang lebih dari 100 buku. Imam Adz Dzahabi mengatakan lagi, “Dan diantara kesesatan-kesesaatan Ibnu ‘Arabi yang paling parah adalah kitabnya yang berjudul “Al Fusus”, yaitu Fususul Hikam. Jika di dalam kitab itu tidak ada kekafiran, maka di dunia ini tidak ada kekafiran.” Artinya memang dalam kitab itu isinya kekufuran yang sangat nyata. Lalu Imam Ad Dzahabi mengatakan lagi, “Ibnu ‘Arabi telah diagung-agungkan oleh sekelompok orang, bukan hanya orang awamm, tapi sekelompok ulama juga. Dan mereka memaksakan diri untuk mentakwilkan setiap ucapan, pendapat Ibnu ‘Arab dengan makna-makna yang sangat jauh.”

Kemudian dikisahkan di situ, Imam Izzudin bin ‘Abdussalam yang mengatakan tentang Ibnu ‘Arabi. Dia mengatakan bahwa Ibnu ‘Arabi adalah seorang ulama suu’, pendusta. Dia menyatakan bahwa alam ini kekal, tidak akan ada kiamat, surga-neraka. Dan dia tidak mengharamkan perzinaan.

Kemudian Imam Adz Dzahabi mengatakan, “Andai Ibnu ‘Arabi menarik kembali pendapat-pendapatnya sebelum mati maka sungguh dia telah beruntung dan bagi Allah itu bukan sesuatu yang sulit.” Artinya Imam Adz Dzahabi tidak memastikan akhir hayatnya Ibnu ‘Arabi itu sempat bertaubat atau tidak. “Ibnu ‘Arabi itu memiliki syair yang indah, ilmu yang luas, dan fikiran yang sangat cemelang, dan tidak diragukan lagi bahwasannya banyak dari ungkapan-ungkapannya bisa ditakwil yang mana bisa dibawa ke manakna kufur ataupun tidak kufur kecuali satu, bukunya Fususul Hikam.”

-          Imam Ahmad bin Muhammad al Adnahawi dalam kitabnya “Thabaqatul al Mufasirin, beliau mengatakan tentang Ibnu ‘Arabi, “Seorang ulama yang agung, sangat jelas kedudukannya, satu-satunya ulama tafsir pada zamannya. Dia juga seorang penulis karya-karya yang sangat banyak dan penuh ilmu, diantaranya kitab ‘Al Futuhat Al Makiyyah’, kitab lainnya adaalah tafsir Al Qur’an yang bernama ‘Al Ijmal At Tafsil’ dan kitab Fususul Hikam, dan karya-karyanya teerlalu banyak untuk dihitung.”

Jadi disebutkan oleh Imam Khairuddin az Ziraqli dalam ‘Al ‘Alam’ disebutkan bahwa karya Ibnu ‘Arabi itu lebih dari 100 karya. Dan disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi bahwa ada segolongan ulama yang membela Ibnu ‘Arabi yang menganggap wali Allah, ulama sufi, ahli tafsir bahkan. Kita aka sebutkan  beberapa ulama yang mengagungkan Ibnu ‘Arabi sebelum zamannya Imam al Alusi. Kita tahu bahwa Imam al Alusi hidup pada abad 13H, berarti bila Ibnu ‘Arabi meninggal pada abad 7H berarti pada masa hidupnya sampai zaman Imam al Alusi itu ada sekitar 500 tahun. Dan selama 500 tahun itu berapa ulama yang mengagungkan Ibnu ‘Arabi. Jika kita temukan, jumlahnya lebih dari 60 ulama. Kita ambil contoh dalam kitabnya Ibnu Hajar al Asqalani, dalam kitab sejarah ‘Ad Durar Al Kaminah bil A’yanil mi’ah Ats Tsaniyah’_’Mutiara-mutiara Terpendam Para Tokoh Islam yang Hidup Pada Thaun 800an’, riwayat hidup para ulama yang hidup pada abad ke 7-8H.

Beliau sebutkan ulama-ulama zaman itu yang mengagungkan Ibnu ‘Arabi, diantaranya dikisahkan perdebatan antara Ibnu Taimiyyah dengan para Qadhi di Mesir pada zaman Sultan Baibars al Jasankin, seorang penguasa Daulah Imam Malik. Disebutkan pada juz 1 halaman 171 Ibnu Hajar al Asqalani mengisahkan, di Mesir ada 4 Qadhi qudhat pada masa itu, bermadzhab Hanafi, Hambali, Syafi’i, dan Maliki. Di Mesir ini Qadhi qudhat madzhab Syafi’i yang bernama Syaikh Qashr al Mambaji. Peristiwa ini terjadi pada tahun 723H, Ibnu Taimiyah saat itu berada di Mesir sedang berdakwah di sana. Karena beliau ulama besar maka beliau bertemu dengan para Qadhi, ulama di istana. Di sanalah Ibnu Taimiyah menyalahkan Syaikh Qashr al Mambaji karena sangat membela dan mengagungkan Ibnu ‘Arabi. Maka Ibnu Taimiyah menulis surat untuk Syaikh Qashr, yang dalam surat itu Ibnu Taimiyah mengkafirkan Ibnu ‘Arabi. Dan marahlah Syaikh Qashr, lalu menulis surat balasan kepada Ibnu Taimiyah. Akhirnya Syaikh Qashr mendesak Sultan Baibars untuk membunuh Ibnu Taimiyah. Maka peristiwa inilah yang menyebabkan Ibnu Taimiyah dimasukkan penjara. Dianggap melecehkan wali Allah, orang shalih, ulama-ulama sufi. Sikapnya Syaikh Qashr ini dibela oleh 2 Qadhi lainnya, hanya lucunya salah satu dari mereka itu semadzhab dengan Ibnu Taimiyah, madzhab Hambali, namanya Qadhi Syarafuddin al Harami. Dia ikut menyalahkan Ibnu Taimiyah dan membela Syaikh Qashr. Dan satu lagi Qadhi yang membela itu namanya Qadhi Zaiduddin Ibnu Makhlukh al Maliki, Qadhi al Maliki yang paling keras permusuhannya dan menyebabkan Ibnu Taimiyah masuk penjara. Dalam sejarahnya Ibnu Taimiyah masuk penjara itu semuanya karena proses debat, tulisan buku-buku beliau, seperti menulis buku Aqidah Wasithiyah, Aqidah Hamawiyah. Sampai seperti itu karena beliau dianggap tajzim (menyamakan Allah punya jasad seperti makhluk) oleh orang-orang/ qadhi Asy’ariyah Maturidiyah. Itu saja yang membela adalah para qadhi, apalagi orang-orang awamnya.

Disebutkan sangat banyak sekali tokoh-tokoh yang membela Ibnu ‘Arabi. Mungkin yang paling mengejutkan adalah sebuah kisah tentang riwayat hidup seorang ulama besar fiqih yang faqih dari madzhab syafi’i bernama Alaudin ‘Ali bin Ismail bin Yusuf al Qanawi, seorang qadhi di Damaskus. Di satu sisi dia pembela Ibnu Taimiyah dan di sisi lain dia membela Ibbnu ‘Arabi. Disebutkan riwayat hidupnya oleh Imam Ibnu Hajar al Asyqalani dalam kitab Ad Durar Alkaminah Juz 4 halaman 31. Di situ disebutkan bahwa Imam ‘Ali bin Ismail adalah seorang qadhi di Damaskus. Dia cenderung kepada Ibnu ‘Arabi, padahal dia juga mengarang buku yang membantah orang-orang ahlul Ittihad, wihdatul wujud. Tapi dia mengagumi Ibnu ‘Arabi yang padahal dia adalah syaikhnya wihdatul wujud. Dan beliau ini menjelaskan hadits Abu Hurairah yang di akhir hadits itu jika salah menafsirkan maka orang akan terjatuh pada wihdatul wujud.

“Jika Allah sudah cinta kepada seorang hamba, maka Allah akan menjadi pendengaran bagi hamba sehingga hamba itu mendengar dengannya, Allah akan menjadi penglihatan yang dengannya hamba tadi akan melihat, Allah akan menjadi 2 tangan yang dengannya hamba tadi memukul, dan Allah akan menjadi 2 kaki yang hamba tadi dengannya berjalan.”

Qadhi Alaudin menerangkan hadits ini dengan sangat bagus, dengan arti bukan wihdatul wujud dan bahkan membantah mereka, tapi dia sendiri mengagumi Ibnu ‘Arabi. Dan adalah Syaikh Alaudin ini menghormati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan dia membela Ibnu Taimiyah. Meskipun dalam beberapa hal menyelisihi dan menyalahkan Ibnu Taimiyah. Diriwayatkan dalam sejarah hidupnya, bahwa qadhi ini juga yang mengusahakan agar Ibnu Taimiyah dibebaskan dari penjara di Damaskus.

Selain kisah itu masih banyak kisah-kisah lainnya. Belum nanti kita baca kitabnya biografi ulama abad 9-10H. Misalkan kitabnya Imam Asyuyuti yang berjudul “Husnul Muhadharah fii Tarikhil Mishrah wal Qahirah”, Ceramah Bagus Tentang Sejarah Mesir dan Kairo. Yang mana situ akan kita dapatkan hal serupa. Dan masih ada lagi kitab-kitab lainnya yang serupa juga. Mereka ulama-ulama besar saja bisa salah faham dalam masalah Ibnu ‘Arabi, membela habis-habisan, adu argumen, dan jika perlu membisikan para penguasa untuk melenyapkan orang-orang yang mengkafirkan Ibnu ‘Arabi. Dan ulama-ulama yang mengkafirkan Ibnu ‘Arabu jumlahnya juga puluhan, dan mungkin ratusan. Ada sebuah kitab berjudul “Tambighul Ghabi” yang mana di situ disebutkan ada 60 lebih ulama yang memfatwakan kafirnya Ibnu ‘Arabi. Artinya yang membela dengan yang mengkafirka itu sama-sama banyak. Dan insya Allah akan kita bahas pada kesempatan berikutnya tentang sikap-sikap mereka yang saling bertentangan. Bahwa meski bertentangan, mereka tidak sampai pada tahap menghakimi “Kamu sesat! Kamu fasik, Kamu kafir!” Karena mereka tahu bahwa mereka sama-sama ijtihad, ada yang benar dan ada yang keliru. Dan jika keliru tidak menyebabkan dia fasik, atau berdosa, atau kafir.

Inilah kehati-hatian ulama dalam menggunakan kaidah “man lam yukaffiril kaafir ausyakka fii kufrihii fahua kaafir”. Dan tentu saja dalam maslahh ini kita mengikuti para ulama yang mengkafirkan Ibnu ‘Arabi.

Allahu’alam...


Teks Arab :



وهؤلاء الأئمة مع رسوخ علمهم ودقة فهمم إلا أنهم يجعلون عقولهم أقصر وأقل من أن تدرك معاني عبارات هؤلاء الملاحدة فيقفون أمامها موقف العاجز المستسلم الذي يجعل صحة كلامهم هي الأصل المقطوع ولو كان غاية في البهتان والشناعة، فإن وجد له تخريجا وتأويلاً فبها وإلا قال القوم أدرى بما يقولون، فانظر مثلاً إلى هذه القصة التي يذكرها الإمام الألوسي عن رأس الإلحاد ابن عربي: "وقد سمعت من بعضهم -العهدة عليه- أن الشيخ الأكبر محيي الدين بن العربي قدس الله تعالى سره وقع يوماً عن حماره، فرضت رجله فجاؤوا ليحملوه فقال: أمهلوني فأمهلوه يسيراً ثم أذن لهم فحملوه فقيل له في ذلك فقال: راجعت كتاب الله تعالى فوجدت خبر هذه الحادثة قد ذكر في الفاتحة، وهذا أمر لا تصله عقولنا! "انتهى كلام الألوسي.

About

Here you can share some biographical information next to your profile photo. Let your readers know your interests and accomplishments.