#27_Ibnu 'Arobi, Sikap Para Ulama Antara yang Mengkafirkan Dengan Yang Tidak Menggkafirkan [1]


____________________________________

Ibnu 'Arobi menulis ttg aqidah sufinya dengan kesadaran._Namun para ulama ahlussunnah berbeda pendapat dalam mengkafirkannya. 

Ada 60 ulama yang mengkafirkannya dan ada bbrp ulama yang terkenal kedalaman ilmunya tidak mengkafirkan, misalkan Imam al Alusi

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Di sini saya akan menyebutkan dua contoh saja, semoga dalam waktu yang lain Allah memberikan kesempatan untuk memberikan penjelasan lebih luas lagi. Dua contoh tersebut adalah :

1.      Ibnu ‘Arabi tokoh sufi, atheis lagi zindiq dan
2.      Al-‘Allamah Ibnu Hajar Al-Haitami, ulama fiqih madzhab Syafi’i.

1.      Ibnu ‘Arabi
Masyarakat Timur tengah menulisnya namanya tanpa alif-lam, untuk membedakan dengan Imam al Qadhi al Maliki Ibnul ‘Arabi, ahli tafsir dan hadits dari mazhab Maliki.

Ibnu ‘Arabi adalah pencetus, penganut akidah al-hulul wal ittihad (manunggaling kawulo lan gusti) yang kekejian dan kesesatannya tidak asing lagi bagi setiap orang yang berakal sehat.

Orang jika belajar tasawuf-sufi, kata “syatkhat” itu pembicaraan yang jika orang non-sufi menyebutnya itu nglantur. Menurut sebodoh-bodohnya orang itu adalah perkataan yang nglantur, sangat keji. Sampai-sampai orang-orang awam sekalipun akan merasa jijik dan menolak akidah sesatnya tersebut, terlebih para ulama. Buku-buku Ibnu ‘Arabi mengucurkan akidah sesat tersebut. Ibnu ‘Arabi sendiri menyusun landasan paham atheisnya secara terus-menerus. Cukuplah sebagai contohnya, syairnya yang berbunyi:

Rob itu tuhan, hamba pun tuhan
Duhai, siapa gerangan yang menjadi mukallaf?
Jika kau jawab hamba, maka ia mayit/ makhluk yang mati
atau kau jawab tuhan, bagaimana tuhan dikenai taklif?

Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari ucapan orang yang zalim ini.

Maksud syair ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Arabi ini orang yang mempunyai keyakinan ‘wihdatul wujud’, bersatunya tuhan dan hamba. Dalam disertasi Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz al Qasid dengan 700an halaman lebih, dengan judul ‘Aqidatul Sufiyah Wihdatul Wujud Al Khafiyyah’_Aqidah Kaum Sufi Wihdatul Wujud sesuatu yang sama. Disitu disebutkan bahwasannya ‘al khulul’, ‘al ittikhad’, dan ‘wihdatul wujud’ itu adalah tiga hal yang sangat berbeda. Dan jika disebutkan di sini, Ibnu ‘Arabi adalah khulul dan ittikhad, namun yang lebih pas beliau itu wihdatul wujud, karena para ulama sufi sampai –mungkin- generasi Ibnu ‘Arabi menganggap khulul dan ittikhad itu bukan bagian dari sufi. Bahkan mereka para sufi itu menganggap khulul dan ittikhad itu kufur dan syirik, karena tidak sejalan dengan aqidah wihdatul wujud. Jadi menurut orang sufi 3 istilah itu berbeda. Menurut mereka, wihdatul wujud (bersatunya hal-hal yang Nampak) itu maksudnya Allah dan alam semesta ini satu hal yang menyatu karena dalam ilmu akal bahwa di dunia ini hanya ada 2, ‘wujud wajib’ dan ‘wujud mumkin’.

Masalah ini mungkin membingungkan tapi perlu kita pahami, agar kita kalau berbicara tentang kekufuran orang lain maka kita akan tahu betul hakikatnya. Dalam ilmu akal, segala sesuatu yang ada itu ada 2 kemungkinannya :

1.      Wujud wajib : sesuatu yang pasti ada, mustahil tidak ada. Bagi mereka wujud wajib itu adalah Allah Ta’ala.
2.      Wujud mumkin : sesuatu yang bisa ada dan bisa tidak ada yaitu makhluk selain Allah.

Bagi orang sufi sampai zamannya Ibnu ‘Arabi lebih (kira-kira 600an H) itu tidak dikenal istilah khulul dan ittikhad, yang dikenal hanya satu istilah, wihdatul wujud. Sesuatu yang wujud=wihdah=satu=tidak dua, tiga, dst, artinya segala sesuatu di alam ini baik yang kelihatan maupun yang tidak itu satu, satu itu sesuatu yang wajib ada. Sehingga segala sesuatu selain Allah itu tidak ada, maka segala sesuatu yang di alam ini adalah Allah. Dan inilah aqidahnya orang sufi yang bukan saja ketika zamannya Ibnu ‘Arabi.

Sejarah singkat Ibnu ‘Arabi.

-          Bernama Muhammad bin ‘ali bin Muhammad al Khatimi (moyangnya) ath Tha’i (salah satu suku Arab Kristen yang pernah menjadi boneka Romawi di Jazirah Arab sampai pemimpinnya masuk Islam) al Mursi (nisbah kepada kota kelahirannya, Mursia, Spanyol, Andalus).

-          Dilahirkan tahun 560 H, abad 6H.

-          Diandalus mempelajari tafsir, hadits, dan fiqih, sampai menjadi sekretaris di kalangan penguasa Mursia
-          10 tahun melanglang buana di Afrika mendalami sufi, tasawuf dari para syaikh-syaikh sufi. Pindah ke Mekah selama 2 tahun mematangkan pemahamannya, lalu ke Konstantinopel, dan akhirnya pindah ke Damaskus dan meninggal di sana tahun 638H, abad 7M.
-          Mempunyai banyak buku tafsir. Juga ada buku yang terkenal seperti Fushushul Hikam.

Bagi orang sufi segala sesuatu di alama ini tidak ada wujud mumkin, adanya wujud wajib. Jadi segala sesuatu baik yang terlihat panca indra maupun tidak itu sejatinya adalah wujud wajib=Allah. Pemikiran itulah namanya wuhdatul wujud.

Dalam bukunya Fushushul Hikam mengatakan “alam semesta ini adalah lamunan, bayangan semata. Yang ada hanyalah Allah”. Juga mengatakan, “orang yang disebut telah mencapai taraf ma’rifat itu adalah orang yang memandang Allah itu adalah segala sesuatu. Bahkan memandang Allah adalah ain, inti, hakikat dari segala sesuatu itu sendiri.”

Nah, wihdatul wujud ini disebutkan dalam disertasi Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz al Qasid, bahwa itu sudah ada sejak zaman abad 3H, dimulai oleh Dzunnun al Mishri, seorang ulama sufi yang meninggal tahun 245H, 4 tahun setelah meninggalnya Imam Ahmad. Kemudian dilanjutkan oleh Abu Yazid al Bustomi, nama suku yang sangat terkenal sekali jika kita membaca buku-buku al kisah, majalah al kisah, Hidayah, dll.

Abu Yazid Al Bustomi ini yang katanya masuk gereja, ditanya 10 pertanyaan oleh pendeta dan menjawabbnya dengan tuntas. Kemudian dia mengajukan 1 pertanyaan yang mana pendeta itu tidak bisa menjawab, bukan karena tidak tahu yang benar, tapi jika dia menjawab maka semua umatnya akan masuk Islam. Akhirnya disesak oleh jamaatnya dan betul, terpaksa mengaku menjawabnya, yang akhirnya pendeta dan seluruh jamaatnya masuk Islam. Bagi orang sufi dia adalah orang yang luar biasa hebat. Meninggal tahun 261H, tahun meninggalnya Imam Muslim, pengarang Shahih Muslim. Ternyata pada zaman itu saja wihdatul wujud sudah berkembang, padahal zamannya daulah Abbasiah. Kemudian dilanjutkan oleh Abu Sa’id al Khorras, meninggal tahun 277H. Kemudian oleh Abu Hasan an Nuri, meninggal 295H. Kemudia seorang sufi yang sangat terkenal, al Junaid, meninggal tahun 298H.

Jika kita baca kitab-kitab aqidahnya NU, yang disebut ASWAJA itu orang yang secara aqidah dia mengikuti Abul Hasan al Asy’ari atau Abu Manshur al Maturidi, itu dalam bidang aqidah. Secara fiqih dia mengikuti salah satu dari 4 madzhab, Hanafi, Syafi’I, Maliki, atau Hambali. Dan secara tasawuf dia mengikuti al Junaid, al Ghazali, atau al Khusyairi. Itu definisi Ahlussunnah wal Jama’ah-nya ASWAJA. Jika kita hidup di Indonesia ini tidak belajar ini akan sulit mengikuti jalan diskusi/ dakwah dengan orang-orang NU. Kemudian dilanjutkan Husain bin Manshur al Khalat, seorang wihdatul wujud yang dihukum pancung di zaman Daulah Abbasiah. Kemudian dilanjut asy Syibli, meninggal tahun 334H. Kemudian setelah itu mulailah aqidah wihdatul wujud ini mulai dibukukan oleh para ulama tasawuf dan dikembangkan lebih luas lagi.

Diantara para penyeru/ ulamanya wihdatul wujud itu :

1.      Abu Hamid al Ghazali, meninggal 505H dengan Ihya’ Ulumuddin, atau Al Munkif minadzolal, atau buku-buku sejenisnya. Pada bagian-bagian tauhid bagi orang sufi itu adalah wihdatul wujud, makhluk dan tuhan bersatu, itu tidak beda.
2.      Ibnul Farid, meninggal 632H
3.      Ibnu ‘Arabi

Adapun Hulul dan Ittihad adalah aqidah yang sebetulnya ditolak oleh orang sufi. Bagi mereka siapa yang menganut itu maka syirik, karena tidak merealisasikan tauhid (wihdatul wujud).
Hulul adalah turunnya dzat tuhan ke dalam dzatnya manusia lalu masuk, maka makhluk, manusia menjadi wadah bagi tuhan, pencipta. Ini baru proses, selanjutnya Ittihad.
Ittihad adalah bercampur, bersenyawa jadi satu antara tuhan dengan makhluk, setelah bercampur maka menjadi satu.

Kenapa keduanya ditolak oleh orang sufi? Karena bagi sufi wihdatul wujud, segala sesuatu di dunia ini adalah 1 saja, kalau ada hulul berarti ada 2. Ibnu ‘Arabi dalam bukunya mengatakan, “waspadailah oleh kalian ittihad, karena itu tidak benar.” Bagi mereka 2 hal itu sebenarnya bukan ajaran sufi, Allahu’alam tidak diketahui ini mulai kapan masuk kedalam sufi generasi belakangan. Tapi sampai zaman Ibnu ‘Arabi dan zaman-zaman sesudahnya yang mereka kenal hanya wihdatul wujud, sedang ittihad dan hulul mereka tolak. Tapi pada generasi belakangan, keduanya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari sufi, ‘Allahu’alam dari mana asalnya. Tapi dari beberapa syaikh thariqat sufi zaman sekarang mengungkapkan bahwasannya hulul dan ittihad sampai zaman sekarang pun tidak dianggap sebagai bagian dari ajaran sufi. Bagi sufi tingkatan paling tinggi adala wihdatul wujud itu, sejak awal segala sesuatu itu satu, tidak ada makhluk dan tuhan. Ini pertengkaran diantara sesama orang sufi. Dan disini untuk Ibnu ‘Arabi yang lebih tepat adalah wihdatul wujud.  

Ibnu ‘Arabi menuliskan kekafiran dan kezindiqannya dengan penuh kesadaran, penghayatan dan kelihaian. Apa yang ia tulis bukanlah ungkapan-ungkapan sekedar lewat, keseleo lidah, ketergelinciran ulama atau ijtihad yang keliru.

Jadi betul-betul sadar ketika menulis karena bertahun-tahun dia tekuni aqidah sufi itu, menemui syaikh-syaikh thariqat sufi di Afrika Utara dan Barat. Memantapkan 2 tahun di Mekah, lalu pindah ke mana-mana menyebarkan ajarannya.

Meski demikian, para ulama berbeda pendapat dalam hal mengkafirkan Ibnu ‘Arabi.
Padahal kalau kita yakin bahwa dia itu thaghut akbar sekalipun jika di kalangan pengikutnya dia bergelar ‘asy syaikh al akbar’. Ada seorang ulama menulis buku ‘Tambihul Ghabi’ yang menyebutkan bahwa ada 60 ulama ahlussunnah yang mengkafirkan Ibnu ‘arabi.

Ibnu ‘Arabi mempunyai kitab tafsir tebal belasan jilid, artinya memang dia sejak kecil belajarnya ilmu syaria’t, tafsir, hadits, fiqih, dll.

Dan sering disebutkan, bahwa ulama itu beda pendapat. Ada yang yakin dia thaghut besar/ kafir. Dan ada ulama ahlussunnah yang dia itu ahli tafsir, fiqih, haditas, dll tapi dalam hal ini memandang Ibnu ‘Arabi adalah seorang ulama yang sangat shalih, zuhud, wara’. Kalau kita yang tidak bisa memahami pendapat dia karena maqom kita yang lebih rendah darinya.

Ada ulama-ulama yang membela Ibnu ‘Arabi, yang menganggap dia tokoh ulama tasawuf yang sangat shalih. Diantara mereka yang disebutkan dalam bukunya Syaikh Shalah Shawi adalah seperti Imam Asy Syuyuti yang menganggap Ibnu ‘Arbi adalah seorang ulama yang shalih, zuhud, wara’, dll.

Anda akan mendapati sejumlah ulama yang terkenal luas kedalaman ilmunya dan jasa besarnya kepada umat Islam, saat mereka menyebutkan si atheis ini, mereka menghormatinya, mengagungkannya dan menyematkan kepada namanya ungkapan “semoga Allah mensucikan ruhnya” dan ungkapan semisalnya, mereka menjulukinya Al-‘Arif billah (orang yang sangat mengenal Allah) dan Asy-Syaikh Al-Akbar (ulama paling besar), seperti dilakukan oleh Imam Al-Alusi dalam kitab tafsirnya.  


Allahu’alam..

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Teks Arab :


ولنشر هنا إلى مثالين نكتفي بهما إلى أن ييسر الله موضعا لمزيد البسط، وهما: ابن عربي الصوفي الملحد الزنديق، والعلامة ابن حجر الهيتمي الفقيه الشافعي.
فهذا ابن عربي صاحب عقيدة الحلول والاتحاد الذي لا تخفى شطحاته وشناعاته على بداءة العقول، حتى ليستبشعها ويستعظمها العامة قبل الخاصة، وكتبه تنضح بها، وهو يؤصل لمذهبه الإلحادي تأصيلاً مستمراً، ويكفي منها قوله: (الرب حق والعبد حق * ياليت شعري من المكلف * إن قلت عبد فذاك ميت * أو قلت رب أنى يكلف) تعالى الله عما يقول هذا الظالم علوّاً كبيرا.


وهو يكتب ما يكتبه من كفرٍ وزندقة بوعي وإدراك وتفنن، وليس ما سطره عباراتٍ عابرةً أو سبق قلم أو زلة عالم أو اجتهاد خاطئ، ومع ذلك اختلف العلماءُ في تكفيره، وتجد بعض الأئمة الراسخين في العلم الذين لهم قدم صدق في الأمة حينما يذكرون اسم هذا الملحد يبجلونه ويعظمونه فيلحقون باسمه عبارات "قدس الله روحه" ونحوها ويصفونه بالعارف بالله وبالشيخ الأكبر، كما يفعل الإمام الألوسي في تفسيره.

About

Here you can share some biographical information next to your profile photo. Let your readers know your interests and accomplishments.