____________________________________
Ibnu 'Arobi menulis ttg aqidah sufinya dengan kesadaran._Namun para ulama ahlussunnah berbeda pendapat dalam mengkafirkannya.
Ada 60 ulama yang mengkafirkannya dan ada bbrp ulama yang terkenal kedalaman ilmunya tidak mengkafirkan, misalkan Imam al Alusi
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Di sini saya akan menyebutkan dua contoh saja, semoga dalam
waktu yang lain Allah memberikan kesempatan untuk memberikan penjelasan lebih
luas lagi. Dua contoh tersebut adalah :
1.
Ibnu ‘Arabi
tokoh sufi, atheis lagi zindiq dan
2.
Al-‘Allamah Ibnu Hajar Al-Haitami, ulama fiqih madzhab Syafi’i.
1.
Ibnu ‘Arabi
Masyarakat Timur tengah menulisnya
namanya tanpa alif-lam, untuk membedakan dengan Imam al Qadhi al Maliki Ibnul
‘Arabi, ahli tafsir dan hadits dari mazhab Maliki.
Ibnu ‘Arabi adalah pencetus, penganut akidah al-hulul wal
ittihad (manunggaling kawulo lan gusti) yang kekejian dan kesesatannya
tidak asing lagi bagi setiap orang yang berakal sehat.
Orang jika belajar tasawuf-sufi, kata “syatkhat” itu
pembicaraan yang jika orang non-sufi menyebutnya itu nglantur. Menurut
sebodoh-bodohnya orang itu adalah perkataan yang nglantur, sangat keji. Sampai-sampai
orang-orang awam sekalipun akan merasa jijik dan menolak akidah sesatnya
tersebut, terlebih para ulama. Buku-buku Ibnu ‘Arabi mengucurkan akidah sesat
tersebut. Ibnu ‘Arabi sendiri menyusun landasan paham atheisnya secara
terus-menerus. Cukuplah sebagai contohnya, syairnya yang berbunyi:
Rob itu tuhan, hamba pun tuhan
Duhai, siapa gerangan yang menjadi mukallaf?
Jika kau jawab hamba, maka ia mayit/ makhluk yang mati
atau kau jawab tuhan, bagaimana tuhan dikenai taklif?
Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari ucapan orang yang zalim
ini.
Maksud syair ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Arabi ini orang yang
mempunyai keyakinan ‘wihdatul wujud’, bersatunya tuhan dan hamba. Dalam
disertasi Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz al Qasid dengan 700an halaman lebih,
dengan judul ‘Aqidatul Sufiyah Wihdatul Wujud Al Khafiyyah’_Aqidah Kaum Sufi
Wihdatul Wujud sesuatu yang sama. Disitu disebutkan bahwasannya ‘al khulul’,
‘al ittikhad’, dan ‘wihdatul wujud’ itu adalah tiga hal yang sangat berbeda. Dan
jika disebutkan di sini, Ibnu ‘Arabi adalah khulul dan ittikhad, namun yang
lebih pas beliau itu wihdatul wujud, karena para ulama sufi sampai –mungkin- generasi
Ibnu ‘Arabi menganggap khulul dan ittikhad itu bukan bagian dari sufi. Bahkan
mereka para sufi itu menganggap khulul dan ittikhad itu kufur dan syirik,
karena tidak sejalan dengan aqidah wihdatul wujud. Jadi menurut orang sufi 3
istilah itu berbeda. Menurut mereka, wihdatul wujud (bersatunya hal-hal yang
Nampak) itu maksudnya Allah dan alam semesta ini satu hal yang menyatu karena
dalam ilmu akal bahwa di dunia ini hanya ada 2, ‘wujud wajib’ dan ‘wujud
mumkin’.
Masalah ini mungkin membingungkan tapi perlu kita pahami,
agar kita kalau berbicara tentang kekufuran orang lain maka kita akan tahu
betul hakikatnya. Dalam ilmu akal, segala sesuatu yang ada itu ada 2
kemungkinannya :
1. Wujud wajib : sesuatu yang pasti ada,
mustahil tidak ada. Bagi mereka wujud wajib itu adalah Allah Ta’ala.
2. Wujud mumkin : sesuatu yang bisa ada
dan bisa tidak ada yaitu makhluk selain Allah.
Bagi orang
sufi sampai zamannya Ibnu ‘Arabi lebih (kira-kira 600an H) itu tidak dikenal
istilah khulul dan ittikhad, yang dikenal hanya satu istilah, wihdatul wujud.
Sesuatu yang wujud=wihdah=satu=tidak dua, tiga, dst, artinya segala sesuatu di
alam ini baik yang kelihatan maupun yang tidak itu satu, satu itu sesuatu yang
wajib ada. Sehingga segala sesuatu selain Allah itu tidak ada, maka segala
sesuatu yang di alam ini adalah Allah. Dan inilah aqidahnya orang sufi yang
bukan saja ketika zamannya Ibnu ‘Arabi.
Sejarah
singkat Ibnu ‘Arabi.
-
Bernama
Muhammad bin ‘ali bin Muhammad al Khatimi (moyangnya) ath Tha’i (salah satu
suku Arab Kristen yang pernah menjadi boneka Romawi di Jazirah Arab sampai
pemimpinnya masuk Islam) al Mursi (nisbah kepada kota kelahirannya, Mursia,
Spanyol, Andalus).
-
Dilahirkan
tahun 560 H, abad 6H.
-
Diandalus
mempelajari tafsir, hadits, dan fiqih, sampai menjadi sekretaris di kalangan
penguasa Mursia
-
10
tahun melanglang buana di Afrika mendalami sufi, tasawuf dari para
syaikh-syaikh sufi. Pindah ke Mekah selama 2 tahun mematangkan pemahamannya,
lalu ke Konstantinopel, dan akhirnya pindah ke Damaskus dan meninggal di sana
tahun 638H, abad 7M.
-
Mempunyai
banyak buku tafsir. Juga ada buku yang terkenal seperti Fushushul Hikam.
Bagi orang
sufi segala sesuatu di alama ini tidak ada wujud mumkin, adanya wujud wajib.
Jadi segala sesuatu baik yang terlihat panca indra maupun tidak itu sejatinya
adalah wujud wajib=Allah. Pemikiran itulah namanya wuhdatul wujud.
Dalam
bukunya Fushushul Hikam mengatakan “alam semesta ini adalah lamunan, bayangan
semata. Yang ada hanyalah Allah”. Juga mengatakan, “orang yang disebut telah
mencapai taraf ma’rifat itu adalah orang yang memandang Allah itu adalah segala
sesuatu. Bahkan memandang Allah adalah ain, inti, hakikat dari segala sesuatu
itu sendiri.”
Nah,
wihdatul wujud ini disebutkan dalam disertasi Dr. Ahmad bin ‘Abdul ‘Aziz al
Qasid, bahwa itu sudah ada sejak zaman abad 3H, dimulai oleh Dzunnun al Mishri,
seorang ulama sufi yang meninggal tahun 245H, 4 tahun setelah meninggalnya Imam
Ahmad. Kemudian dilanjutkan oleh Abu Yazid al Bustomi, nama suku yang sangat
terkenal sekali jika kita membaca buku-buku al kisah, majalah al kisah,
Hidayah, dll.
Abu Yazid
Al Bustomi ini yang katanya masuk gereja, ditanya 10 pertanyaan oleh pendeta
dan menjawabbnya dengan tuntas. Kemudian dia mengajukan 1 pertanyaan yang mana
pendeta itu tidak bisa menjawab, bukan karena tidak tahu yang benar, tapi jika
dia menjawab maka semua umatnya akan masuk Islam. Akhirnya disesak oleh
jamaatnya dan betul, terpaksa mengaku menjawabnya, yang akhirnya pendeta dan
seluruh jamaatnya masuk Islam. Bagi orang sufi dia adalah orang yang luar biasa
hebat. Meninggal tahun 261H, tahun meninggalnya Imam Muslim, pengarang Shahih
Muslim. Ternyata pada zaman itu saja wihdatul wujud sudah berkembang, padahal
zamannya daulah Abbasiah. Kemudian dilanjutkan oleh Abu Sa’id al Khorras,
meninggal tahun 277H. Kemudian oleh Abu Hasan an Nuri, meninggal 295H. Kemudia
seorang sufi yang sangat terkenal, al Junaid, meninggal tahun 298H.
Jika kita
baca kitab-kitab aqidahnya NU, yang disebut ASWAJA itu orang yang secara aqidah
dia mengikuti Abul Hasan al Asy’ari atau Abu Manshur al Maturidi, itu dalam
bidang aqidah. Secara fiqih dia mengikuti salah satu dari 4 madzhab, Hanafi,
Syafi’I, Maliki, atau Hambali. Dan secara tasawuf dia mengikuti al Junaid, al
Ghazali, atau al Khusyairi. Itu definisi Ahlussunnah wal Jama’ah-nya ASWAJA.
Jika kita hidup di Indonesia ini tidak belajar ini akan sulit mengikuti jalan
diskusi/ dakwah dengan orang-orang NU. Kemudian dilanjutkan Husain bin Manshur
al Khalat, seorang wihdatul wujud yang dihukum pancung di zaman Daulah
Abbasiah. Kemudian dilanjut asy Syibli, meninggal tahun 334H. Kemudian setelah
itu mulailah aqidah wihdatul wujud ini mulai dibukukan oleh para ulama tasawuf
dan dikembangkan lebih luas lagi.
Diantara
para penyeru/ ulamanya wihdatul wujud itu :
1. Abu Hamid al Ghazali, meninggal 505H
dengan Ihya’ Ulumuddin, atau Al Munkif minadzolal, atau buku-buku sejenisnya.
Pada bagian-bagian tauhid bagi orang sufi itu adalah wihdatul wujud, makhluk
dan tuhan bersatu, itu tidak beda.
2. Ibnul Farid, meninggal 632H
3. Ibnu ‘Arabi
Adapun
Hulul dan Ittihad adalah aqidah yang sebetulnya ditolak oleh orang sufi. Bagi
mereka siapa yang menganut itu maka syirik, karena tidak merealisasikan tauhid
(wihdatul wujud).
Hulul
adalah turunnya dzat tuhan ke dalam dzatnya manusia lalu masuk, maka makhluk,
manusia menjadi wadah bagi tuhan, pencipta. Ini baru proses, selanjutnya
Ittihad.
Ittihad
adalah bercampur, bersenyawa jadi satu antara tuhan dengan makhluk, setelah
bercampur maka menjadi satu.
Kenapa
keduanya ditolak oleh orang sufi? Karena bagi sufi wihdatul wujud, segala
sesuatu di dunia ini adalah 1 saja, kalau ada hulul berarti ada 2. Ibnu ‘Arabi
dalam bukunya mengatakan, “waspadailah oleh kalian ittihad, karena itu tidak
benar.” Bagi mereka 2 hal itu sebenarnya bukan ajaran sufi, Allahu’alam tidak
diketahui ini mulai kapan masuk kedalam sufi generasi belakangan. Tapi sampai
zaman Ibnu ‘Arabi dan zaman-zaman sesudahnya yang mereka kenal hanya wihdatul
wujud, sedang ittihad dan hulul mereka tolak. Tapi pada generasi belakangan,
keduanya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari sufi, ‘Allahu’alam dari mana
asalnya. Tapi dari beberapa syaikh thariqat sufi zaman sekarang mengungkapkan
bahwasannya hulul dan ittihad sampai zaman sekarang pun tidak dianggap sebagai
bagian dari ajaran sufi. Bagi sufi tingkatan paling tinggi adala wihdatul wujud
itu, sejak awal segala sesuatu itu satu, tidak ada makhluk dan tuhan. Ini
pertengkaran diantara sesama orang sufi. Dan disini untuk Ibnu ‘Arabi yang
lebih tepat adalah wihdatul wujud.
Ibnu ‘Arabi menuliskan kekafiran dan kezindiqannya dengan
penuh kesadaran, penghayatan dan kelihaian. Apa yang ia tulis bukanlah
ungkapan-ungkapan sekedar lewat, keseleo lidah, ketergelinciran ulama atau
ijtihad yang keliru.
Jadi betul-betul sadar ketika menulis karena bertahun-tahun
dia tekuni aqidah sufi itu, menemui syaikh-syaikh thariqat sufi di Afrika Utara
dan Barat. Memantapkan 2 tahun di Mekah, lalu pindah ke mana-mana menyebarkan
ajarannya.
Meski demikian, para ulama berbeda pendapat dalam hal
mengkafirkan Ibnu ‘Arabi.
Padahal kalau kita yakin bahwa dia itu thaghut akbar
sekalipun jika di kalangan pengikutnya dia bergelar ‘asy syaikh al akbar’. Ada
seorang ulama menulis buku ‘Tambihul Ghabi’ yang menyebutkan bahwa ada 60 ulama
ahlussunnah yang mengkafirkan Ibnu ‘arabi.
Ibnu ‘Arabi mempunyai kitab tafsir tebal belasan jilid,
artinya memang dia sejak kecil belajarnya ilmu syaria’t, tafsir, hadits, fiqih,
dll.
Dan sering disebutkan, bahwa ulama itu beda pendapat. Ada
yang yakin dia thaghut besar/ kafir. Dan ada ulama ahlussunnah yang dia itu
ahli tafsir, fiqih, haditas, dll tapi dalam hal ini memandang Ibnu ‘Arabi
adalah seorang ulama yang sangat shalih, zuhud, wara’. Kalau kita yang tidak bisa
memahami pendapat dia karena maqom kita yang lebih rendah darinya.
Ada ulama-ulama yang membela Ibnu ‘Arabi, yang menganggap dia
tokoh ulama tasawuf yang sangat shalih. Diantara mereka yang disebutkan dalam
bukunya Syaikh Shalah Shawi adalah seperti Imam Asy Syuyuti yang menganggap
Ibnu ‘Arbi adalah seorang ulama yang shalih, zuhud, wara’, dll.
Anda akan mendapati sejumlah ulama yang terkenal luas
kedalaman ilmunya dan jasa besarnya kepada umat Islam, saat mereka menyebutkan
si atheis ini, mereka menghormatinya, mengagungkannya dan menyematkan kepada
namanya ungkapan “semoga Allah mensucikan ruhnya” dan ungkapan
semisalnya, mereka menjulukinya Al-‘Arif billah (orang yang sangat
mengenal Allah) dan Asy-Syaikh Al-Akbar (ulama paling besar), seperti
dilakukan oleh Imam Al-Alusi dalam kitab tafsirnya.
Allahu’alam..
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Teks Arab :
ولنشر هنا إلى مثالين
نكتفي بهما إلى أن ييسر الله موضعا لمزيد البسط، وهما: ابن عربي الصوفي الملحد الزنديق،
والعلامة ابن حجر الهيتمي الفقيه الشافعي.
فهذا
ابن عربي صاحب عقيدة الحلول والاتحاد الذي لا تخفى
شطحاته وشناعاته على بداءة العقول، حتى ليستبشعها ويستعظمها العامة قبل الخاصة، وكتبه
تنضح بها، وهو يؤصل لمذهبه الإلحادي تأصيلاً مستمراً، ويكفي منها قوله: (الرب حق والعبد
حق * ياليت شعري من المكلف * إن قلت عبد فذاك ميت * أو قلت رب أنى يكلف) تعالى الله
عما يقول هذا الظالم علوّاً كبيرا.
وهو يكتب ما يكتبه من
كفرٍ وزندقة بوعي وإدراك وتفنن، وليس ما سطره عباراتٍ عابرةً أو سبق قلم أو زلة عالم
أو اجتهاد خاطئ، ومع ذلك اختلف العلماءُ في تكفيره، وتجد بعض الأئمة الراسخين في العلم
الذين لهم قدم صدق في الأمة حينما يذكرون اسم هذا الملحد يبجلونه ويعظمونه فيلحقون
باسمه عبارات "قدس الله روحه" ونحوها ويصفونه بالعارف بالله وبالشيخ الأكبر،
كما يفعل الإمام الألوسي في تفسيره.
