____________________________________
Para ulama yang mengkafirkan Ibnu 'Arobi tidak menggunakan kaidah ini untuk mengkafirkan ulama lain yang membela Ibnu 'Arobi.
Hal itu tidak lain karena kekuatan bashirah para ulama tersebut, kedalaman ilmu mereka, kehati-hatian mereka dalam agama dan pengetahuan mereka tentang udzur-udzur
“Semakin dalam ilmu seorang ulama, niscaya ia akan semakin mengetahui udzur-udzur dan semakin lebar memberi udzur kepada masyarakat.”
Para ulama dahulu saling berdebat dalam perkara orang zindik, kadang sampai tingkat mubahalah ttg sesatnya ibnu 'Arobi, TAPI mereka tidak sampai taraf mengkafirkan orang yg berbeda pendapat dgn mereka.
Tidak menganggap mereka ahlu bid'ah, fasik, pembela orang musyrik tapi tetap dianggap sgb ulama yang mulia, ilmu2 tetap diambil dari mereka, buku karangan mereka ttp diambil manfaatnya
Dan kekeliruan dalam berlonggar2 memberi udzur trhadap para zindik mereka tetap dibantah dengan ilmu dan kajian yang mendalam
Para ulama tidak mengkafirkan mereka, tidak pula mendorong untuk memvonis mereka sebagai orang-orang sesat, kecuali orang-orang yang bodoh akalnya, kurang matang/dewasa dan melesat keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat keluar dari tubuh hewan buruan!
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Masih dalam
penerapan kaidah “Barangsiapa tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu-ragu
atas kekafiran orang kafir, maka ia telah kafir”
Pada
pembahasan sebelumnya telah dipaparkan bagaimana Imam al Alusi yang menghormati
dan mengagungkan ‘muhiddin’ Ibnu ‘Arabi.
Apakah kalian melihat para ulama yang mengkafirkan Ibnu
‘Arabi ---dan betapa banyaknya jumlah mereka--- juga mengkafirkan
individu-individu saudara-saudara mereka dari kalangan ulama yang tidak
mengkafirkan Ibnu ‘Arabi ---dan betapa banyak juga jumlah mereka---?
Bahkan apakah para ulama yang mengkafirkan Ibnu ‘Arabi juga
mengkafirkan ulama yang tidak memandang Ibnu ‘Arabi sebagai orang sesat?
Ternyata tidak.
Apakah para ulama yang mengkafirkan Ibnu ‘Arabi mempergunakan
kaedah “Barangsiapa tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu-ragu atas
kekafiran orang kafir, maka ia telah kafir” atau mereka menghunuskan kaedah
tersebut sebagai pedang yang tajam lagi membinasakan terhadap setiap orang yang
berbeda pendapat dengan mereka dalam berdebat dengan mereka dalam menilai kafir
dan murtadnya Ibnu ‘Arabi? Ternyata tidak.
Hal itu tidak lain karena kekuatan bashirah para ulama
tersebut, pencarian bukti-bukti dalam ilmu mereka, kehati-hatian mereka dalam
agama dan pengetahuan mereka tentang udzur-udzur. Sebagian ulama kita telah
mengatakan, “Semakin dalam ilmu seorang ulama, niscaya ia akan semakin
mengetahui udzur-udzur dan semakin lebar memberi udzur kepada masyarakat.”
Ungkapan ini benar bagi siapa yang mau mengambil pelajaran. Tidak samar lagi
bahwa ungkapan ini dibatasi dengan batasan syar’i yang benar dan fiqih yang
kuat yang disertai ketakwaan kepada Allah Ta’ala.
Ibnu Taimiyah umpamanya, beliau mengkafirkan Ibnu ‘Arabi tapi
tiidakk serta merta mengkafirkan
ulama-ulama sebelum beliau yang tidak mengkafirkan Ibnu ‘Arabi. Dan bahkan
tidak mengkafir ulama-ulama yang tidak menganggap Ibnu ‘Arabi sesat karena itu
merupakan kuatnya ilmu, kehati-hatian beliau, dan luasnya ilmu beliau tentang
udzur. Makin dalam ilmunya maka ulama itu akan makin hati-hati, akan makin
faham akan kondisi masyarakat, manusia.
Intinya, para ulama terlibat perdebatan seputar orang zindiq
ini, Ibnu ‘Arabi, dan mereka menulis buku-buku untuk membongkar kekejiannya dan
menyingkap tirai yang menutupi kezindiq-annya. Terkadang hal itu berlanjut
sampai tarap adu sumpah berani mati (mubahalah) tentang kesesatan Ibnu
‘Arabi. Namun hal itu tidak sampai menjadikan mereka mengkafirkan orang yang
berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah ini, seperti kisah yang
diriwayatkan tentang Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani yang berdebat dengan salah
seorang pecinta Ibnu ‘Arabi.
Demikianlah, keagungan para ulama yang menyelisihi dalam
perkara kezindiq-an Ibnu ‘Arabi (yaitu para ulama yang tidak memandang Ibnu
‘Arabi sebagai orang zindiq, atheis dan kafir, pent) tetap seperti sedia kala.
Tidak karena mencintai Ibnu ‘Arabi atau tidak mengkafirkaan
Ibnu ‘Arabi kemudian dianggap ahlu bid’ah, fasik, pembela orang musyrik. Tidak
seperti itu, tapii tetap dianggap sebagai ulama yang mulia.Ilmu mereka tetap
diambil, buku-buku mereka tetap diambil manfaatnya, dan kekeliruan mereka yang
terlalu longgar lagi keterlaluan dalam memberi udzur kepada orang-orang zindiq
tersebut dibantah dengan ilmu dan kajian yang mendalam.
Namun hal itu tidak menjadi sebab untuk mengkafirkan mereka,
tidak pula mendorong untuk memvonis mereka sebagai orang-orang sesat, kecuali
menurut orang-orang yang bodoh akalnya, muda usianya (tidak dewasa) dan melesat
keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat keluar dari tubuh hewan
buruan!
Inilah contoh pertama yang disebutkan Syaikh ‘Athiyatulllah,
dan memang banyak. Sampai zaman sekarangpun masih banyak ulama yang
mengagungkan Ibnu ‘Arabi, tidak menganggap dia sesat, zindik, kafir, dll tapii
dianggap sebagai wali Allah, orang shalih. Yang mana jika dalam risalah ini
disebutkan contohnya adalah Imam al Alusi, seorang ulama yang hidup pada abad
belakangan, 13H yang sezaman dengan anak-cucunya Syaikhh Muhammad bin Abdul
Wahab. Tapi tidak ada ulama yang memvonis Imam al Alusi itu seorang ahli
bid’ah, sesat, pembela/ ulama musyrik. Tidak seperti itu, sampai sekarang
beliau tetap dianggap sebagai ulama kaum muslimin, buku tafsir dan ilmunya
tetap diambil.
Contoh kedua, Ibnu Hajar Al-Haitami
Ia seorang ulama yang cenderung kepada sufi,
mengagung-agungkan Ibnu ‘Arabi, membela para pelaku syirik kubur, dalam
sebagian bukunya memperbolehkan meminta pertolongan agar keluar dari bencana (istighatsah)
kepada selain Allah, membela orang-orang musyrik yang ber-istighatsah
kepada selain Allah yaitu kepada para wali dan kuburan mereka; mencela,
merendahkan dan sangat memusuhi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bahkan
mengkafirkan beliau atau mendekati hal itu. Kerusakan-kerusakan Ibnu Hajar
Al-Haitami dalam perkara (syirik akbar, pent) ini sudah sangat terkenal.
Ini kisah tentang Ibnu Hajar al Haitami, jika kita mendalami
fiqih madzhab Syafi’i maka kita akan mendalami seberapa nilainya Ibnu Hajar al
Haitami di kalangan madzhab Syafi’i. Kalau zaman dahulu, zaman 6-7H, madzhab
Syafi’i itu punya 2 ulama ahlu tarjih, mujtahid muhaqqi’, mujtahid yang
mencapai taraf tahqiq dan tarjih di dalam madzhab, yaitu Imam an Nawawi dan
Imam ar Rafi’i, maka generasi madzhab syafi’i pada abad-abad belakangan ini
mengenal 2 mujtahid ahli tahqiq dan tarjih, yaitu Imam Ibnu Hajar al Haitami
dan Imam Syihabuddin ar Ramli (biasa dikenal asy Syafi’i ash Shaghir).
Imam Ibnu Hajar al Haitami namanya adalah Ahmad bin Muhammad
bin Muhammad bin ‘Ali bin Hajar al Haitami al Wa’ili Al Mishri Al Makki. Al
Haitam adalah nama kampung dimana beliau lahir, sebuah daerah di Mesir bagian
timur. al Waili adalah nama marga beliau, yaitu sebuah marga dari suku bani
Sa’idah kalangan Anshar. Secara nasab beliau berasal dari golongan Anshar,
entah Khazraj atau Aus-Allahu’alam. Tapi beliau wara’, tidak mau mencantumkan
‘al Anshari’ di belakang namanya. Al Mishri_lahir di Mesir, AL Makki_hidup dan
meninggal di Mekah. Beliau dilahirkan pada tahun 909, awal abad 10H, 3 tahun
sebelum meninggalnya Imam Jalaluddin Assuyuti. Lahir dari keluarga yatim dan
diasuh olehh kakeknya. Seorang anak yang sangat cerdas, hafal Al Qur’an sebelum
umur 10 tahun dan sudah mendapat ijazah dari para ulama di Mesir untuk memberi
fatwa dan mengajar pada usia 19 tahun pada tahun 929H. Dan di Mesir sudah
menulis buku, menjadi ulama semenjak usia belasan tahun. Saking cerdasnya tidak
heran beliau mencapai derajat mujtahid muhaqqi’ madzhab Syafi’i generasi
belakangan. Beliau hidup pada masa 2 kerajaan besar, 15 tahun pada masa
akhir-akhir Daulah Imam Malik dan 52 setelahnya pada masa Turki Utsmani. Beliau
mendapati masa jayanya Turki Utsmani, pada masa Sultan Muhammad I, Sultan Muhammad
II (Muhammad al Fatih), dan Sultan Sulaiman al Qanuni.
Di Mesir sudah mulai
men-syarh kitab-kitab madzhab Syafi’i. Dan salah satu kelebihan beliau adalah
memasukan pendapat para ulama Yaman ke dalam kitab-kitab syarh beliau saat
beliau men-syarh kitab ‘Ar Raud’. Ketika kitab itu ditulis, para ulama di Mesir
sangat kagum. kemudian mereka bersiap-siap memesan dalam jumlah banyak kepada
Ibnu Hajar al Haitami. Dan orang-orang yang iri terhadaap beliau membakar draft buku syarh Ar Raud. Hal ini yang membuat
beliau-mungkin- terpukul dan lalu beliau berhijrah bersama keluarganya
meninggalkan Mesir untuk ke Mekah. Di Mekah beliau hidup 50 tahunan lebih
sampai beliau meninggal di sana. Beliau meninggal tahun 974H, seperempat ketiga
dari abad 10H. Beliau dalam sejarah hidupnya mengarah kurang-lebih 117, buku
yang sudah dicetak 50an buku dan sisannya masih berupa draf. Dan para ulama
Syafi’i pada abad 11 sampai hari ini, mereka menyatakan bahwa bagi orang yang
bermadzhab Syafi’i apabila dia mempuunyai kemampuan untuk mengkaji dalil bisa
mengikuti kajian fiqih perbandingannya para ulama muhaqqi’nya madzhab Syafi’i,
maka diarahkan untuk memilih salah satu dari dua pendapat ulama tahqiq madzhab
Syafi’i, yaitu Imam an Nawawi dan Imam ar Rafi’i. Tapi jika dia orang awam atau
ulama yang tidak mempunyai kemampuan tahqiq-tarjih, maka disarankan untuk
memilih salah satu dari dua fatwa ulama muhaqqi’ madzhab Syafi’i generasi
belakangan, yaitu Imam Ibnu Hajar al Haitami atau Imam Syihabuddin ar Ramli.
Imam Syihabbuddin ar Ramli meninggal tahun 104H, 30 tahun setelah Ibnu Hajar al Haitami. Imam Ibnu Hajar ini
buku-bukunya dalam madzhab Syafi’i menjadi pegangan oleh para mufti, ulama
madzhab Syafi’i, termasuk di pesantren-pesantren. Dan di dunia Islam jika kita
lihat, ulama Syafi’i yang mengikuti pendapat-pendapatnya Ibnu Hajar al Haitami
itu lebih banyak dari pada para ulamanya yang mengikuti pendapat-pendapatnya
Syihabbudin ar Ramli. Pendapatnya,
tarjih, fatwa Ibnu Hajar al Haitami dijadikan pegangan di Hadramaut, Syam,
Kurdistan (Suriah, Irak, Turki), Dagistan (Balkan, Rusia), sebagian besar
wilayah Yaman, Mekah, dan Madinah. Penduduknya yang bermadzhab syafi’i sebagian
besarnya mengikuti tarjih dan fatwanya Ibnu Hajar al Haitami. Adapun Imam
Syihabbuddin ar Ramli pendapatnya diikuti di Mesir, dan sedikit dari penduduk
Yaman, Mekah, dan Madinah. Jika di Indonesia-Allahu’alam- pondok-pondok
pesantren buku-buku panduannya selain ‘Al Ghayyah wa Taqrid’ dan
syarah-syarahnya, sebagian besarnya mengajarkan bukunya Ibnu Hajar al Haitami,
terutama sekali “Al Minhaj al Qowim_Syarh Masailul Ta’lim” (sebuah matan kitab
Syafi’i karangan ulama Hadramaut). Kemudian di pondok-pondok NU ada yang
mengajarkan matannya dan ada yang syarahnya (Ibnu Haajar al Haitami. Jika untuk
kalangan yang lebih tinggi dari itu (para ulamanya) mereka memakai
karya-karyanya Ibnu Hajar al Haitami, “Tuhfatul Muhtad Syarh Al Minhaj” atau “Fathul
Jawad Syarhul Irsyad”, dll.
Dalam hal aqidah, Ibnu Hajar al Haitami ini seorang ‘muttasawif’,
seorang sufi tulen dan asy’ari tulen. Dan karena kitabnya mengandung seorang
penulis ahli sufi dan juga asy’ari, maka buku-bbuku fiqih, aqidah, akhlaq, dan
lainnya, nuansa tasawuf dan asy’ariyahnya kuat, sehingga menyebar hampir ke
seluruh dunia mewarnai ratusan juta penduduk yang mengaku bermadzhab syafi’i.
Dalam risalah beliau, Ibnu Hajar al Haitami menganjurkan
ziarah ke kuburan, menempuh perjalanan jauh untuk mengunjungi makam orang-orang
shalih. Dan lebih dari itu, bahkan berdoa dengan perantara para wali/
orang-orang shalih yang sudah meninggal itu. Jaadi jika kita lihat mengapa
sebagian besar para kyai seperti itu, karena buku-buku yang dikaji selama
ratusan tahun seperti itu. Sejak Ibnu Hajar menggarang buku sampai sekarang
sudah mendarah daging, maka tidak cukup hanya menyodorkan kitab tauhidnya
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk menerangkan bahwa itu bid’ah, syirik.
Dan barangkali malah berfikiran bahwa kitab ini aajarannya Ibnu Taimiyah,
sementara Ibnu Hajar al Haitami tidak cocok dengan Ibnu Taimiyah karena
mengarang buku yang mengharamkan istighatsah dengan selain Allah, menyatakan
bid’ahnya syathurruhal ke selain 3 masjid (Masjidil Haram, Nabawi, Al Aqsa).
Dan karena sufinya tadi, beliau termasuk penganjur ‘sunnah’nya memperingati
maulid nabi, dsb. Itulah produk para ulama.
Tapi disebutkan dalam biografi dan tulisan-tulisan beliau
bahwa sekalipun beliau menggerakkan maulid nabi, namun beliau mengecam keras
tarian dan musik pada perayaan-perayaan nabawi dan ritual-ritual sufi lainnya,
beliau mengarang buku tentang itu. Artinya, beliau itu sufi yang dzikir, tanpa
marawisan, gambusa, dll. Tapi tetap beliau sangat membela istighatsah kepada
orang-orang mati.
Dan sebagaimana umumnya seorang sufi, beliau menulis beberapa
karangan yang mengagungkan nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam sampai
pada taraf bahwa nabi Muhammad itu sudah diciptakan sebelum nabi adam lahir,
seluruh dunia ini diciptakan dari nur Muhammad, dll.
Dengan kedudukan beliau yang mulia di kalangan madzhab Syafi’i,
maka pengaruhnya ke seluruh dunia itu sangat luar biasa. Dan insya Allah akan
kita bahas bagaimana para ulama mensikapi Ibnu Hajar al Haitami. Apakah
kemudian para ulama serta merta mengkafirkan beliau karena telah melakukan dan
mengajak orang syirik dan telah tegak hujjah karena dari kecil sudah hafal Al
Qur’an.
Inilah sekilas tentang Ibnu Hajar al Haitami. Tokoh besar
dengan jasa besar, tapi juga dengan beberapa bid’ah yang sangat parah (bid’ah
syirkiyah).
Allahu’alam...
Teks Arab :
فهل رأيتم العلماء المكفرين
لابن عربي -وما أكثرهم- يكفرون أعيانَ مَن لم يكفره من إخوانهم العلماء، وما أكثرهم
أيضاً؟ بل هل كفروا حتى مَن لم يرَ ضلال شخص ابن عربي، وهل استعملوا معهم قاعدة "من
لم يكفر الكافر فهو كافر" أو شهروها سيفاً مصلتاً وسلاحاً فاتكاً في وجه كل من
خالفهم ونازعهم في تكفيره وردته؟! وما ذاك إلا لقوّة بصيرتهم وتثبّتهم في العلم واحتياطهم
في الدين ومعرفتهم بالأعذار، وقد كان بعض مشايخنا يقول: كلما رسخَ علمُ العالم كان
أبصر بالأعذار وأوسع عذراً للناس، وهذا صحيحٌ لمن اعتبره، ولا يخفى أنه مقيّد بقيد
الشرع الصحيح والفقه الرجيح على قاعدة تقوى الله تعالى.
والحاصل أن العلماء كانوا
يتناظرون في شأن هذا الزنديق ابن عربي ويكتبون الكتب في فضح خبثه وإماطة اللثام عن
زندقته، وربما وصل الأمر إلى المباهلة في شأن ضلاله، ولكنهم لا يتجاوزون ذلك إلى تكفير
مخالفهم في هذا الأمر، كما في القصة المروية عن الحافظ ابن حجر رحمه الله مع مَن ناظره
من محبي ابن عربي في شأنه.
وهكذا بقيتْ جلالة أولئك
العلماء المخالفين في شأن زندقة ابن عربي على حالها؛ يؤخذ من علمهم، وينتفع بكتبهم،
ويُرد عليهم بالعلم والتأصيل فيما حاولوه من التوسع الشنيع في الاعتذار لهؤلاء الزنادقة،
ولم يكن ذلك سببا في تكفيرهم ولا داعياً إلى تضليلهم، إلا عند سفهاء الأحلام حدثاء
الأسنان المارقين من الدين كما يمرق السهم من الرمية.!
وأما ابن حجر الهيتمي فإنه كان متصوفاً كذلك معظما لابن عربي المذكور، وكان
مناضلا عن أهل شرك القبور؛ جوّز في بعض كتبه الاستغاثة بغير الله تعالى ودافع عن المشركين
المستغيثين بغير الله من الأولياء وأضرحتهم، وشنّع على شيخ الإسلام ابن تيمية وحط عليه
ووقع فيه وقوعاً شديداً، ولعله كفره أيضاً أو قاربَ، وطامّاته في هذا الباب معروفة،
ومع ذلك لم يكفره العلماءُ واعتذروا عنه بما له من تأويل وعظيم فضلٍ ورسوخ قدم في العلم
والفقه،
