Hakekat siapakah Abu Maryam almukhlif
Sering berdusta dalam amalan/ tindakan; menyampaikan kepada orang2 bahwa ia telah beradu hujjah dgn para ulama,ikhwah mujahidin dan para lalu ulama dan ikhwah mujahidin tdk bisa menjawab
Padahal para ulama, mujahidin bukannya tdk bisa menjawab, namun karena waktu dan keadaan untuk melayani mereka, mengerjakan sesuatu yg lebih penting dari itu.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Insya Allah, kita akan kembali
menjelaskan perkara ini dan mengomentari penjelasan Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm
Azh-Zhahiri tersebut dalam kesempatan yang lain, jika Allah memudahkannya
kepada kita dengan karunia dan nikmat-Nya. Dalam kesempatan tersebut saya akan
mengomentari sebagian perkataan Abu Maryam Al-Mukhlif dan meruntuhkan
pokok-pokok madzhabnya yang menyimpang. Saya juga akan menjelaskan kepalsuan
cara-cara berargumentasi Abu Maryam Al-Mukhlif dan besarnya sikap
berlebih-lebihan serta pemalsuan yang ia lakukan. Hanya Allah semata Yang
melimpahkan taufik.
Syaikh ‘Athiyatullah di sini menyebutkan
bahwa beliau akan berusaha dalam kesempatan yang lain akan menjelaskan
perkataan Ibnu Hazm dalam memberi komentar dan menjelaskan pokok-pokok pemikiran
Abu Maryam al Mukhlif tentang cara-cara berdalil dia yang keliru dan juga
beberapa sikap yang sangat berlebih-lebihan. Namun Allahu’alam apakah beliau
sempat menjelaskannya dalam kesempatan lain yang panjang lebar dari risalah ini atau tidak, yang jelas sampai hari
ini risalahnya belum sampai kepada kita. Ada kemungkinan beliau gugur lebih
dahulu sebelum sempat menuliskan hal ini.
Abu Maryam Al-Mukhlif telah berdusta
dengan menyatakan bahwa para ulama telah berijma’ dalam membeda-bedakan antara
kekafiran dan kesyirikan, menurut cara yang ia jelaskan kepada manusia. Perkataannya
dalam perkara tersebut telah tertolak dan batil, seperti baru saja saya
jelaskan di atas, dan penjelasan secara panjang lebar mengenai hal itu bisa
dilihat pada tempat yang telah saya isyaratkan tersebut, insya Allah.
Abu Maryam Al-Mukhlif juga telah
berdusta dalam banyak perkara, baik dalam bidang ilmu maupun amalan, masalah teori
maupun praktik.
Di antara kedustaan Abu Maryam
Al-Mukhlif dalam bidang amalan dan realita adalah ia selalu berkata kepada para
pengikutnya dan menebar isu di tengah masyarakat bahwa Abu Maryam Al-Mukhlif
dan para pengikutnya telah berdebat dengan ikhwan-ikhwan dari kalangan
mujahidin, ulama-ulama mujahidin dan syaikh-syaikh mujahidin. Mereka
menceritakan telah menyampaikan dalil-dalil mereka kepada ikhwan-ikhwan dari
kalangan mujahidin, ulama-ulama mujahidin dan syaikh-syaikh mujahidin.
Sementara mujahidin tidak menjawab dalil-dalil tersebut sebab mujahidin tidak
memiliki hujah.
Ini merupakan sebuah kedustaan yang
nyata. Sesungguhnya mujahidin, maksud saya sebagian besar komandan, ulama, dan
syaikh mujahidin tidak mengetahui kalau di dunia ini ada Abu Maryam Al-Mukhlif
dan para pengikutnya. Sebagian besar komandan, ulama, dan syaikh mujahidin
tidak pernah mendengar fitnah (berita dan kesesatan) mereka, juga tidak
memiliki berita apapun tentang mereka. Kecuali berita sambil lalu yang
disampaikan oleh sebagian ikhwan bahwa ada beberapa orang sesat di negeri fulan
yang mengkafirkan seluruh kaum muslimin dan meyakini saat ini tidak ada jihad,
dan keyakinan-keyakinan sesat lainnya.
Saya percaya tulisan-tulisan Abu
Maryam Al-Mukhlif dan tulisan-tulisan para pengikutnya tidak sampai kepada
sebagian besar komandan, ulama, dan syaikh mujahidin. Kalaupun tulisan-tulisan
tersebut sampai kepada mereka, maka mereka tidak akan melihatnya dan tidak ada
perlunya bagi mereka untuk melihatnya dan membuang-buang waktu dengan kesibukan
melihatnya. Justru kedudukan mereka lebih tinggi dan mereka telah memiliki
pekerjaan-pekerjaan besar dan amalan-amalan agung yang menyibukkan mereka.
Saya percaya tulisan-tulisan Abu
Maryam Al-Mukhlif dan tulisan-tulisan para pengikutnya tidak sampai kepada
sebagian besar komandan, ulama, dan syaikh mujahidin. Kalaupun tulisan-tulisan
tersebut sampai kepada mereka, maka mereka tidak akan melihatnya dan tidak ada
perlunya bagi mereka untuk melihatnya dan membuang-buang waktu dengan kesibukan
melihatnya. Justru kedudukan mereka lebih tinggi dan mereka telah memiliki
pekerjaan-pekerjaan besar dan amalan-amalan agung yang menyibukkan mereka. Semoga Allah meneguhkan dan menolong mereka.
Ini ceritanya Syaikh ‘Athiyatullah al
Libbi, sebagian besar komandan dan ulama mujahiddin itu tidak tahu kalau di
dunia ini ada orang seperti Abu Maryam al Mukhlif dan para pengikutnya.
Kalaupun ada berita, paling berita angin lalu saja. Tulisan-tulisan,
brosur-brosur, buku-buku, artikel-artikel yang ditulis oleh Abu Maryam al
Mukhlif dan para pengikutnya tidak sampai kepada komandan-komandan mujahiddin
dan ulama-ulama mujahiddin. Jikapun ditakdirkan sampai, maka tidak ada
kebutuhan juga oleh para mujahidin untuk melihatnya, membacanya, mengkajinya.
Karena buang-buang waktu, mereka sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan besar,
pekerjaan-pekerjaan utama yang mana itu adalah punjak ketinggian agama Islam,
masya Allah.. Apa sempat di gunung-gunung gitu mau buka laptop, butuh
nge-charge harus ke kota dulu, buang-buang waktu. Memikirkan cari selamat,
melakukan amaliyat saja sudah habis waktunya, apalagi mikir yang seperti itu.
Komandan ini-itu syahid, bingung mengangkat komandan baru, bingung menyampaikan
pesan atasan kepada bawahan, ada banyak pekerjaan yang membuat orang tidak akan
sempat mikir yang seperti itu. Syaikh Aiman dalam pesan audionya yang berjudul “65
Tahun Berdirinya Nefara Israil”, disitu beliau menyampaikan bahwa seandainya
beliau menemukan jalan untuk sampai kepada para mujahidin Suriah, maka beliau
akan bergabung dengan mereka, tapi beliau di posisi disebuah lubang, yang
lubang itu juga penting untuk beliau tutup untuk membentengi mereka para
mujahidin dari belakang. Maka tidak sempat memikirkan yang seperti itu, sudah
ruwet, banyak perkara lain yang membuat orang tidak akan sempat mikir seperti
udzur jahl atau yang seperti itu. Tentu mengurus nyawa umat Islam itu jauh
lebih tinggi pahalanya dari pada meributkan masalah yang seperti itu.
Dan mereka para ulama mujahiddin mengetahui bahwa
tulisan-tulisan tersebut hanyalah ujian dan kesesatan, tak lebih dari badai
yang bertiup sesaat kemudian berlalu dan lenyap tak berbekas, dan tidak lebih
besar daripada apa yang telah mereka ketahui dan pengalaman yang telah mereka
lalui sebelumnya.
Tidak akan sempat para qadah, ulama
mujahidin memikirkan hal-hal seperti itu. Hari ini, jangankan para komandan dan
ulama mujahidin, para ulama Saudi saja yang masih nurani itu mereka menggalang
dana kesana-kemari untuk mengirim dana sebanyak-banyaknya ke Suriah. Kita jika
membaca koran-koran dan situs-situs berbahasa Arab itu bahwa bank-bank di Saudi
itu menyatakan illegal, siapapun nama syaikhnya kalau mencantumkan penggalangan
dana untuk dikirimkan ke nomor sekian-sekian itu semua illegal. Dan jika dana
itu tertangkap maka itu pelangggaran dan muftinya Saudi termasuk rajanya sudah
menyatakan bahwa orang-orang yang menggerakkan para pemuda ke Suriah itu adalah
para pengacau, maka akan ada hukuman yang berat. Para dosen dan ulama Saudi
yang hidup mewah saja masih punya kesadaran untuk memikirkan persoalan yang
besar seperti itu, apalagi para komandan mujahiddin yang hari-harinya memang
untuk itu, tentu akan lebih sadar lagi. Apalagi sekarang, gelombang serangan
Syiah di Indonesia untuk mengaburkan masalah Suriah itu luar biasa besarnya.
Orang syiah ini mereka menguasai media massa, koran Republika mereka yang di
belakangnya, penerbitan besar mereka yang menguasai, dunia seni musik, novel
dll mereka yang menguasai. Termasuk yang sekarang sudah masuk ke TV dan jalur
hukum, menguasai para pengacara dan lainnya. Dan bagi TV, siapa yang kuat
membayar maka akan dia layani, seperti Syiah yang pakai dana yang luar biasa
besar. Bahkan jika dalam penelitian banyak pihak bahwa Syiah itu sudah
menguasai Istana sejak zamannya presidennya Suharto dan wakil presiden
Sudarmono. Zaman itu sudah direkrut olehh Syiah, tahun 80-90an, belasan tahun
lebih cepat dakwahnya dari kita.
Maka datanglah sang pendusta yang
buruk ini dan para pengikutnya yang bodoh dan terpedaya, lantas berdusta kepada
masyarakat yang bodoh, orang-orang non Arab yang perlu dikasihani dan
orang-orang seperti mereka. Ia dan para pengikutnya berkata kepada mereka:
“Inilah hujah-hujah kami, kami telah menuliskannya dan mengatakannya kepada
mujahidin, namun mereka tidak mampu membantahnya.”
Mereka berargumen dengan tidak adanya
bantahan dari mujahidin dan mereka berdusta kepada orang-orang yang lugu dan
lemah.
Kadang jika bisanya hanya bisa menerima,
tidak mengkaji secara dalam maka mereka yang lugu dan lemah itu, mereka akan
menerima begitu saja bahwa pendapat Abu Maryam al Mukhlif itu benar.
Mereka tidak mengetahui bahwa
biasanya mujahidin tidak akan membantah orang-orang seperti mereka, kecuali
dengan bantahan seperti yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ
بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلًا
“Katakanlah: “Masing-masing pihak
beramal sesuai dengan keyakinannya, dan Rabb kalian Yang lebih mengetahui pihak
manakah yang lebih lurus jalannya?” (QS. Al-Isra’ [17]: 84)
Tidak ada waktu untuk melayani mereka,
dan Allah lebih tahu siapa yang lebih benar jalannya.
Semoga Allah membalas para pendusta.
Manhaj mujahidin, ulama-ulama dan
syaikh-syaikh mereka, pendukung-pendukung mereka dan para ulama kaum muslimin
yang dikenal luas dengan keilmuan, keshalihan dan dakwahnya kepada agama Allah
dan tauhid sudah sangat terkenal dan tertulis dalam perkara-perkara ini dan
perkara-perkara lainnya (masalah udzur bil jahl, masalah mawani’
takfir, masalah syirik dan kufur itu sama atau beda, dll).
Jadi apa perlunya menulis bantahan
atau menyibukkan diri dengan mendebat seorang jago klaim lagi pendusta yang
sembrono? Bahkan sekedar membayangkan dan mengetahui madzhabnya sudah cukup
untuk yakin bahwa ia adalah kebatilan, kesesatan yang nyata dan keluar
meninggalkan agama!
Maka hendaklah seorang saudara yang
muslim memahami hal ini. Tidak setiap orang harus dibantah dan tidak
setiap penanya harus dijawab. Begitulah Al-Qur’an dan As-Sunnah
mengajarkan kepada kita.
Ketika para ulama dan para komandan
mujahiddin tidak menjawab pertanyaan mereka, bukan berarti mereka tidak peduli,
tapi memang tidak ada keperluannya. Bayangkan saja jika pendapat seperti
pendaapt Abu Maryam al Mukhlif itu dibawa ke masyarakat, maka akan jadi apa masyarakat
kita. Dibawa ke tengah medan jihad, maka akan jadi apa medan jihad nantinya.
Dalam syair disebutkan:
Jika orang bodoh berbicara, janganlah
kau jawab
Yang lebih baik dari jawaban adalah
sikap diam
Dalam syair lainnya dikatakan:
Jika tiap kali anjing menggonggong
kau jejali mulutnya batu
Tentu sebongkah batu berharga satu
takaran emas
Ini adalah pemahaman yang sudah
terkenal dan diketahui oleh para ulama. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ
اللَّهِ شَيْئًا
“Dan barangsiapa dikehendaki Allah
untuk dibiarkan sesat, niscaya engkau sedikit pun tidak akan mampu menolak
sesuatu pun dari Allah (untuk menolongnya).”(QS. Al-Maidah [5]: 41)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam sendiri telah diberi arahan oleh Allah Ta’ala dengan firman-Nya,
نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍ
فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ
“Kami lebih mengetahui tentang apa
yang mereka katakan, dan engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap
mereka. Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada siapa pun yang takut
terhadap ancaman-Ku.” (QS. Qaf [50]: 45)
Jika tidak mau mendengar, takut dengan
ancaman Allah ya sudah biarkan saja tidak usah diurus.
Allahu’alam...
Teks Arab :
وإن شاء الله سنعود إلى
شرح هذا المقام والتعليق على عبارة ابن حزم هذه في فرصة أخرى إذا يسّر الله تعالى بمنه
وفضله، أعلق فيها على بعض كلام هذا المخلف وأنسف أصوله المنحرفة، وأبيّن زيف استدلالاته
وعظيم تنطعاته وتزويرَه، وبالله وحده التوفيق.
ويكذب
المخلفُ في ادعائه أن العلماء مجمعون على أن الشرك غير الكفر على النحو الذي يشرحه
هو للناس، وكلامه في ذلك منقوضٌ باطل، كما قدمتُ قبل قليل، وبسط ذلك في الموضع الذي
أشرتُ إليه إن شاء الله تعالى.
ويكذب
في أمور كثيرة في العلم والعمل.
ومن
كذبه في العمل والواقع أنه يقول لأتباعه ويشيعون في الناس أنهم حاججوا الإخوة المجاهدين
ومشايخهم وعلماءهم وأنهم أوصلوا إليهم أدلتهم زعموا، وأن المجاهدين لم يجيبوا عليها
لأنهم ليس عندهم حجة، وهذا من الكذب المبين، فإن المجاهدين أعني قاداتهم وعلماءهم ومشايخهم
لا يعرف أكثرهم عن وجود المخلف وأتباعه في هذه الدنيا، ولا سمعوا بفتنتهم، ولا عندهم
من خبرهم شيء، إلا أن يكون خبرا عابرا مرّ عليهم من خلال بعض الإخوة أن هناك نفرا ضالين
في المكان الفلاني يعتقدون تكفير المسلمين ويعتقدون أن لا جهاد الآن، وكذا وكذا.. ولا
أظن أنه وصلهم ما يكتب المخلف ولا أتباعه، ولو وصلهم لم ينظروا فيها ولا لهم حاجة في
النظر فيها وتضييع الوقت في الاشتغال بها، بل مقامهم أعلى وعندهم ما يشغلهم من فضائل
الأعمال وعظائم الفِعال، نصرهم الله وأيدهم، وهم يعلمون أنها فتنة وضلالة إنما هي زوبعة
تأخذ قليلا من الوقت تم تنتهي وتتلاشى، وليست بأشد مما خبَروه وعرفوه قبلها.
فيأتي
هذا الكذاب الأشر وأتباعه الجهلة المفتونون ويكذبون على الناس من الجهلة والعجم المساكين
ونحوهم فيقولون لهم: هذه حججنا وكتبناها وقلناها للمجاهدين ولم يستطيعوا الرد، فيحتجون
بعدم ردّ المجاهدين عليهم، ويكذبون على البسطاء الضعفاء، وما علموا أن المجاهدين لا
يردون على أمثالهم -في الغالب- إلا بمثل قول الله تعالى: ﴿قل كلٌ يعمل على شاكلته فربكم أعلم بمن هو أهدى سبيلا﴾.
فقاتل
الله الكذابين.
ومنهج
المجاهدين وعلمائهم ومشايخهم وأنصارهم وسائر علماء الأمة المعروفين بالعلم والصلاح
والدعوة إلى الله تعالى وتوحيده، معروف مشهور مسطور في هذه المسائل وغيرها، فأي حاجة
إلى كتابة ردّ أو اشتغال بمحاجّة دعيّ كاذب متهوّك، بل هذا مجرد تصور مذهبه والمعرفة
به كافية في تيقن بطلانه وأنه ضلالٌ مبين ومروق من الدين.!
فليتفطن الأخ المسلم لهذا. فليس كل أحدٍ يُرَد
عليه ولا كل سائل يُجاب، وهكذا علمنا القرآن والسنة.
وقد
قيل: إذا نطق السفيه فلا تجبه * فخيرٌ من إجابته السكوتُ
وقيل: لو كل كلبٍ عوى ألقمته حجراً * لأصبحَ الصخرُ مثقالا
بدينارِ
وهذا
فقه معروف يعرفه أهله. ﴿ومن يرد الله فتنته فلن تملك
له من الله شيئا﴾.
والنبي صلى الله عليه
وسلم قد قال له ربُّه: ﴿نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ
وَمَا أَنتَ عَلَيْهِم بِجَبَّارٍ فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ﴾ق45
