#04_Fitrah Islam Berani Mereka Tentang


________________________________________

Penyebab sikap-sikap mereka tersebut diantaranya :

  • Menentang fitrah Islam
  • Mempersempit jiwa, yang akhirnya jiwa menjadi lesu, menghindar, dan tidak mampu menanggung tugas-tugas agama.
  • Mengingkari hati kecil mereka yang sebetulnya menerima kebenaran
  • Sering menentang bukti-bukti dhohir syari'at Islam maupun dhilalah (makna, kesimpulan yang lebih dalam lagi). 
  • Bingung menjawab berbagai kebingungan mereka namun terus saja angkuh.

:::::::::::::::::::::::::::::::

Sunnatullah pada diri mereka, seperti yang dicermati oleh orang-orang yang berpengalaman, biasanya mereka berkoar-koar dan banyak menimbulkan kegaduhan, lalu mereka mendapatkan para pengikut dalam jumlah sedikit ataupun banyak, lalu beberapa waktu setelahnya sebagian besar mereka akan kembali kepada kebenaran dan terbukti jelas bagi mereka kesesatannya, setelah mereka “digodok” dan dirasuki oleh kerusakannya. Kita memohon kepada Allah keselamatan. Lalu perkara mereka semakin kecil dan akhirnya hilang.

Sebagian orang di antara mereka yang telah bertaubat, yang telah mendapat karunia petunjuk dari Allah setelah menempuh pengalaman panjang dalam kelompok mereka, dan hal itu jarang terjadi, telah menceritakan kepada kami bahwa mereka pernah sampai pada taraf keragu-raguan tentang Allah ‘Azza wa Jalla, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, risalah beliau dan Al-Qur’an!

Ya, demi Allah, mereka sangat berlebih-lebihan, sangat keras dan ekstrim dalam agama, mereka tidak ridha dengan rahmat Allah yang luas, mereka tidak menerima karunia dan kelembutan Allah. Padahal di banyak ayat dan hadits disebutkan bahwa Rahmat Allah itu mendahului kemurkaan-Nya. Mereka justru memperberat dan memperkeras atas diri mereka sendiri sehingga mereka binasa, karena mereka dikuasai oleh setan dan rasa was-was, akibatnya mereka selalu meragukan diri mereka sendiri pada setiap saat. Kalau pagi mikir-mikir kemudian mengeluarkkan ucapan/ komentar “saya kemarin masih kafir dah nari ini saya masuk Islam kembali” karena sampai kuatnya keragu-raguan itu. Dan nanti sorenya “jangan-jangan tadi saya melakukan mukafirat/ syirkiyat”,, “saya ini muslimnya sah tidak?”

Di waktu pagi seseorang di antara mereka mengatakan, “Saya kemarin adalah orang kafir, maka saya hari ini masuk Islam kembali.” Seseorang di antara mereka dalam satu majlis mengkafirkan saudaranya sendiri, lalu ia berubah dan menghukumi saudaranya tersebut sebagai seorang muslim, lalu ia kembali mengkafirkannya berkali-kali. Orang lainnya di antara mereka mengatakan, “Ya, baru saja saya kafir, maka sekarang saya kembali kepada Islam.”

Seseorang di antara mereka mengkafirkan keluarganya, istrinya dan anaknya sendiri setiap hari. Pada diri mereka terjadi kerusakan-kerusakan hubungan kemasyarakatan dan kemanusiaan ---yang dalam jangka panjang--- mereka tidak akan sabar menjalaninya. Muungkin satu minggu, satu-dua bulan mungkin bisa bersikap seperti itu, tapi lama-lama dia tidak akan kuat, karena mereka mencampakkan diri mereka sendiri ke dalam sikap memperberat diri, mempersulit, mempersempit dan hal-hal yang biasanya jiwa manusia tidak akan sanggup menanggungnya dalam jangka waktu selamanya. Mereka tidak mau menerima karunia Allah kepada mereka dengan keluasan dan kemudahan dari-Nya, justru mereka memberat-beratkan sendiri maka Allah pun memperberat atas diri mereka. Allah tidak menjadikan untuk kalian dalam agama ini kesempitan/ kesulitan, dan ayat-ayat seeprti ini banyak. Dan jika belajar tentang sejarah perundang-undangan dalam Islam bahwa semua ulama, pakar syariat itu sepakat bahwa salah satu asas/ dasar/ pondasi/ karakteristik syari’at Islam itu adalah adanya kemudahan, kelapangan serta menolak/ menghilangkan kesempitan. Mereka tidak bisa menerima seperti itu sekalipun Allah sudah berfirman seperti itu dan sekalipun Rasulullah sudah menyatakan dalam hadits.

Akibatnya sebagian mereka sampai pada kondisi kafir secara terang-terangan terhadap Allah, nabi-nabi-Nya dan risalah-risalah (rasul-rasul)-Nya.
Sebagian mereka sampai pada kondisi mencaci maki Allah ‘Azza wa Jalla! Kita berlindung kepada Allah dari kondisi-kondisi yang hina tersebut.

Sebagian mereka sampai pada kondisi putus asa, tak punya harapan, bahkan bunuh diri!

Sebab yang jelas dan langsung dari hal itu (mengapa dari sikap mereka sampai taraf hina, sangat buruk), wallahu a’lam, adalah sikap mereka banyak dan sangat kuat bertabrakan dengan fitrah dan agama fitrah, sementara Islam adalah agama fitrah. Juga karena sikap mereka sangat banyak dan kuat mempersempit atas jiwa mereka sendiri sehingga jiwa menjadi jemu, bosan, capek, menghindar, lari menjauh dan tidak mampu menanggung tugas-tugas agama. Hal itu lalu berkembang menjadi beraneka ragam rekayasa (tipu daya) yang buruk dan ta’wilan-ta’wilan rusak yang tidak bisa diterima oleh syari’at.

Selain itu adalah sikap mereka sangat banyak dan kuat bertentangan dengan zhahir-zhahir syari'at Islam dan dilalah-dilalah (sisi penunjukan makna dari dalil syar’i) yang beragam atas hakekat-hakekat.

Jika kita baca kitab tafsirnya para ulama salaf abad 2-3-4H seperti Imam Ath Thabari dan lainnnya, atau ulama-ulama muttaakhirin yang kuat dari aspek tafsir bil ma’tsur-nya (tafsir ayat dengan ayat, tafsir ayat dengan hadits, dll), misalkan kita baca tafsir Atwaul Bayan_Syaikh Ansyiqithi, beliau sering tegaskan berkali-kali bahwa kadang satu ayat yang menunjukkan beberapa makna yang semuua makna itu benar. Kita sering mengikuti kajian tafsir Juz ‘Amma itu, betapa sering satu kata bisa mempunyai 1-7 makna, dan bisa seperti itu juga yang menafsirkan para pakar bahasa dari generasi tabi’in, tabi’ut tabi’in. Zaman mereka saja bbisa difahami sepertii itu, apalagi orang zaman sekarang. Dan kadang semua makna itu secara syar’i benar.

Maka pada awalnya pada diri mereka timbul sikap angkuh, lalu mereka menemukan dalil-dalil lain (yang menyelisihi keyakinan dan pendapat mereka, pent), akibatnya mereka menemukan kebingungan-kebingungan yang banyak dan akhirnya mengalahkan kemampuan mereka. Bingung bagaimana cara ‘mendamaikan’ antara dalil yang mereka pegangi dengan dalil-dalil lain yang jelas tidak sama dengan keyakinan mereka padahal sama-sama dalil syar’i. Tapi sayangnya setelah mereka bingung itu justru malah semakin ngotot, sombong tidak mau mengikuti dalil. Semakin menolak dan akhirnya semakin terjadi tabrakan dengan fitrahnya, akalnya, nuraninya.

Mereka bingung menjawab berbagai kebingungan tersebut. Namun mereka semakin angkuh (memegangi keyakinanannya dan menyelisihi dalil-dalil syar’i tersebut, pent). Apalagi jika ia adalah seorang tokoh pada kelompok dan jama’ahnya, ia orang yang diikuti, memiliki pengaruh, ia memiliki para pengikut, pendapat-pendapat dan madzhab sendiri. Maka ia akan sulit kembali kepada kebenaran. Hal ini termasuk makna dari firman Allah,

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ

“Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah membatasi antara seseorang dengan hatinya.” (QS. Al-Anfal [8]: 24)

Hatinya mengakui sebetulnya sebuah dalil benar tapi dia tidak menginginkannya, akhirnya kata hatinya ditinggalkan. Itulah Allah membuat batas antara dia dengan hatinya.

Demikianlah seseorang di antara mereka akan mengalami perang dalam hatinya dan ia merasakan kuatnya kontradiksi dalam dirinya. Terkadang hal itu mengakibatkan ia terkena penyakit psikologis yang berat, jiwa yang keras atau ia menjadi orang zindiq yang tulen dan orang yang kafir kepada Allah Yang Maha Agung. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari keburukan tersebut.

Itu beberapa cerita pengalaman orang-orang yang telah bertaubat. Jika dianalisa sebabnnya yang menonjol itu adalah meyelisihi fitrah, dinul fitrah, dalil-dalil baik secara dhahir maupun dhilalahnya/ kesimpulan yang lebih dalam lagi, dilihat dari aspek bahasa, ini-itu bagaimana. 

Di antara contoh-contoh kontradiksi yang senantiasa mendera mereka

1. Mereka mengkafirkan seluruh kaum muslimin, termasuk orang-orang muslim yang terbaik dari kalangan orang-orang yang ahli ibadah, orang-orang yang zuhud, orang-orang yang berjihad, orang-orang yang melakukan bom syahid, para ulama, para da’i dan orang-orang yang mencurahkan hartanya untuk berinfak di jalan Allah.

Mereka mengkafirkan seluruh kaum muslimin tersebut dan tidak menilai keislaman kecuali bagi segelintir orang, yaitu orang-orang yang berada dalam jama’ah (kelompok) mereka saja dan orang-orang yang seperti mereka saja.Mereka bahkan mengkafirkan seluruh umat Islam pada abad-abad yang terakhir (14,13,12H, dst).

Jika kita belajar tarikh tasyrik/ sejarah perundang-undangan Islam bahwa yang disebut zaman kemunduran Islam, zaman dimana Islam dari ujung Maroko (pinggir benua Atlantik) sampai di Marauke, dari ujung Timur sampai ujung Barat daan ujung utara sampai ujung selatan, yang disebut dunia Islam memasuki abad jumud/ statis/ keunduran, abad dimana kesyirikan, bid’ah, taqlid meraja-lela, para ulama sudah tidak menghasilkan karya yang sifatnya ijtihad lagi itu dimulai pada masa runtuhnya Daulah Abbasiyah di Baghdad pada 656H. Saat Gholagokan dan Tar-tar datang ke negeri Baghdad. Baghdad diruntuhkan dan tinggal puing-puing kemudian di atas reruntuhan itu Ghalagokan membuat kerajaan, Daulah Ilkhaniyah yang mana dia menjadi rajanya dan anak turunannya yang menjadi kaisar di disitu. Dari situ dia melakukan serangan ke negeri-negeri Islam lainnnya, ke Syam satu persatu takluk, dan juga ingin meyerbu Mesir. Pada saat ingin menyerbuu Mesir itulah dia menemui kekalahan pertama kali dalam perang Ainjalud. Saat dia berkuasa, jelas, karena dia anak keturunannya Jengis Khan, maka dia terapkan El Yasik. Menyerbu Syam dan menahlukkan Damaskus, Hamah, Palestin. Mengangkat para qadhi, gubernur, pejabat semuanya orang-orang dia, sekalipun agamanya muslim, namun tentu harus tunduk pada aturan dia. Dan ketika dia berencana mau menyerbu mesir itulah Sultan Syaifuddin yang memimpin Daulah Imam Malik di Mesir berangkat ke Syam, dan terjadilah perang Ainjalud itu. Itulah pertama kalinya orang mongol bisa dikalahkan. Meski demikian, zaman itu sampai abad sekarang masih disebut abad Jumud, Termasuk Daulah ‘Utsmaniyah sekalipun, dalam tarikh tasyrik disebut zaman kemunduran umat Islam, yaitu tidak munculnya ulama-ulama besar yang menjadi perubah suasana. Memang mungkin 100an tahun muncul 1-2 orang tapi secara umum suasana umat Islam itu seperti kebodohan, kesyirikan, bid’ah, taqlid, dan lainnya itu rata dimana-mana. Ya, di beberapa tempat munjul Mujadid, itu adalah sunnatullah bahwa setiap zaman akan muncul mujadid, tidak semua rusak. Islam itu dijamin tidak akan berkumpul dalam kesesatan, tapi bahwa fakta bahwa mayoritas kaum muslimin selaman abad kemunduran Islam itu jatuh dalam syirik, taqlid, atau bid’ah itu tidak bisa ditutupi. Muncul beberapa pembaharu, ada Ibnu Taimiyah abad 7-8H, muncul Muhammad bin Abdul Wahhab abad 12-13H, itupun di Nejed saja. Nejed itu jika dilihat di peta maka secuil saja, dengan pulau Jawa masih lebih besar Jawa. Sementara dunia Islam itu dari kutub utara sampai kutub selatan ada muslim. Di kutub utara, Siberia sana mayoritas muslim sejak Islam masuk di sana pada zaman Daulah ‘Utsmaniyah tahun 1500an M. Dari Merauke sampai Maroko sana suasananya seperti itu.

Nah, jika kita terapkan faham takfir dan melihat suasana kebodohan seperti itu berarti semua umat Islam selama abad-abad terakhir hijriyah ini masuk kafir semua, bukan orang-orang muslim. Tidak pandang bulu, mau dia ulama, jangan-jangan seorang sufi. Padahal di antara mereka itu juga banyak ahli ibadah, ahli zuhud, mujahiddin. Siapa lagi orang-orang yang memerangi Spanyol dan Portugis selama ratusan tahun menjaga Islam jika tidak Daulah ‘Utsmaniyah. Siapa lagi yang melawan Inggris, Prancis, Rusia baik di Eropa, Asia, Afrika jika bukan Daulah ‘Utsmaniyah. Sementara jika kita baca sejarah Daulah ‘Utsmaniyah, banyak dari khalifahnya saja para pengikut tarekat. Termasuk Sultan Hamid II pun yang dia serahkan hidup-matinya untuk melindungi Palestina itu adalah seorang pengikut tarekat. Sampai ketika dibuang ke luar negeri pun masih berhubungan tulis-menulis dengan mursyidnya, pembimbing tarekatnya.

Sementara itu mereka (kelompok Abu Maryam al Mukhlif dan yang semisal dengannya) menemukan dalam hadits-hadits nabawi dan zhahir-zhahir (dalil) syariat bahwa generasi umat Islam akan senantiasa berlanjut sampai menjelang hari kiamat, yaitu saat Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan mencabut nyawa setiap orang yang beriman.

Mereka juga menemukan dalam hadits-hadits nabawi pujian bagi sebagian generasi umat, sebagian zaman (periode waktu) umat, sebagian tempat umat, dan pemberitahuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tetap eksisnya keislaman, keimanan dan keshalihan pada diri (sebagian generasi, periode dan tempat)nya dan diri orang-orang (pada sebagian generasi, periode dan tempat) tersebut.
Ada generasinya umat Islam yang berjihad melawan Mongol adalah Thaifah Manshurah, padahal aqidah mereka asy’ariyah. Ada tulisan yang sebenarnya ceramah dari Syaikh Abul Hasan Ali alhasani annadawi, beliau berceramah menyambut datangnya abad 15H, beliau sebutkan berapa juta orang Eropa dan Asia yang terbunuh oleh Tar-tar. Semua sejarawan pada masa itu, baik Islam, Kristen, Katolik, semuanya apatis bahwa sudah tak ada lagi peradaban lagi setelah ulah Tar-tar. Syaikh Abul Hasan menguraikan bagaimana sikap apatisnya para sejarawan itu keliru, karena pada perjalanan puluhan tahun kemudian justru dakwahnya orang thariqat yang membuat para kaisar Tar-tar itu masuk Islam, dan mereka menjadi pembela Islam yang luar biasa. Sampai di India berdiri daulah Ialam Mongol (yang membangun Taj Mahal).

Artinya bahwa memang ada pujian-pujian di dalam hadits itu terhadap sebagian generasi umat Islam. Begitu pula pujian di beberapa zaman. Contohnya ika kita baca dalam Shahih Bukhari-Shahih Muslim, dll bahwa ada pujian terhadap umat Islam yang mengalahkan musuh dimana musuh itu disifati mukanya seperti perisai, sandal dan pakaiannya bulu, dan ternyata diindentifikasi oleh para ulama bahwa itu adalah tentara Mongol dan sifat-sifatnya pujian itu untuk Daulah Imam Malik Bahriyah. Adalagi hadits-hadits yang memuji umat Islam yang mengalahkan Konstantinopel, ibu kota Romawi yang ternyata yang mengalahkan lagi-lagi orang Turki, Daulah ‘Utsmaniyah.

Untuk pujiana kepada tempat-tempat seperti contohnya Syam, Palestin, Yordan, Yaman, Lebanon.
Mereka juga menemukan hadits-hadits tentang thaifah manshurah yang senantiasa meraih kemenangan atas musuh-musuh Islam dan bahwa thaifah manshurah akan senantiasa eksis sampai datangnya kiamat. Dan banyak lagi hadits-hadits lainnya. Akibatnya mereka mengalami kontradiksi yang sangat kuat dan mereka menekan perasaan mereka sendiri, sehingga membuat jiwa mereka sendiri sakit dan mati!

2. Mereka melihat tanda-tanda keshalihan dan bagusnya keimanan, seperti yang diberitahukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an dan diberitahukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits shahih. Allah beritahukan dalam Al Qur’an tandanya orang sholih seperti menegakkan shalat, menunaikan zakat, iman pada hari akhir, menginfakkan sebagian hartanya. Dan juga tandanya orang muttaqin, orang mukmin dan jika dijumlah mungkin ayat-ayat seperti itu jumlahnya ratusan seperti juga memakmurkan masjid, membaca ayat Al Qur’an, dll. Begitu juga di dalam hadits seperti contohnya tidak ada yang menjaga wudhu selain orang mu’min, orang yang melakukan shalat dia mendapat jaminan di sisi Allah, dll yang sangat bayak. serta tanda-tanda husnul khatimah (kematian yang baik) pada diri banyak umat Islam. Terlebih lagi pada diri mujahidin dan syuhada’. Kita lihat misalkan di Afghan sebagaimana disebutkan Syaikh Abdullah Azzam dalam banyak bukunya bahwa syuhada’nya saja 1,5 juta orang dan yakin kalau mereka mayoritas orang awam. Sering disebutkan beliau bahwa harakat Islamiyah, gerakan jihad itusebagus apapun aqidahnya, akhlaknya, ikatan organisasinya itu tidak akan mampu menanggung beban jihad. Karena jika mereka saja yang baik yang bisa menanggung beban jihad saja, maka begitu mereka syahid maka jihad berhenti, tapi faktanya tidak, yang mana syuhada’nya saja mencapai 1,5 juta. Banyak sebagian yang berjihad ini mereka orang-orang kampung yang pengetahuan agamanya awam. Masalah dasar saja kurang faham apalagi masalah aqidah yang rumit-rumit. Makanya banyak orang-orang Saudi yang sudah tertarbiyah itu banyak yang meremehkan aqidah kok mau memperjuangkan Islam yang mana berarti perang melawan orang musyrik melawan orang komunis, mereka simpulkan seperti itu. Itu yang dinamakan tahdzir/ penggembosan yang membuat banyak masalah antara orang-orang arab dengan orang-orang asli Afghan. Ada lagi seperti terbunuhnya komandan Brigade Al Qasam dengan seorang kawannya bisa kita lihat sendiri di videonya bagaimana yang menghadiri pemakamannya puluhan ribu orang di Gaza. Menunjukkan ribuan umat Islam itu jadi saksi bahwa mereka adalah orang baik-baik. Dan mungki untuk orang-orang yang mudah memfonis akan bilah bahwa Al Qosam merupakan bawahannya Hamas, Hamas tidak menegakkan syari’at Islam,  berarti berjuang di bawah mendera sekulerisme, nasionalisme. Tapi ribuan orang menjadi bukti yang mana ada tanda-tanda khusnul khatimah pada orang-orang seperti ini. Mereka juga melihat kesabaran orang-orang muslim yang bersabar, kekuatan iman orang-orang yang beriman, dan kekuatan keyakinan orang-orang yang yakin. Kita bisa lihat foto-foto atau video-video Suriah bahwa dari bayi sampai orang tua yang dengan tingkat keagamaan mereka yang sangat awam menunjukkan bahwa mereka mempunyai kesabaran yang melebihi kesabaran kita.

Di sisi lain mereka memvonis semua umat Islam tersebut sebagai orang-orang kafir dan bukan orang-orang Islam. Akibatnya mereka senantiasa berada dalam kontradiksi yang besar, yang hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui hakekatnya. Dalam relung hati, mereka sendiri tidak mampu menolak dan membantah kenyataan tersebut akibat kontradiksi tersebut sangat banyak, bukti-buktinya kuat dan sesuai dengan fitrah!


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::: 

Teks Arab :


وعادة الله تعالى فيهم حسبما رصدها أهل العبرة أنهم تكون لهم زوبعة وضجة ويحصل لهم في فتنتهم أتباع قليلون أو كثيرون، ثم ما يلبث أن يرجع جزء كبيرٌ منهم ويؤوبون إلى الحق ويكتشفون الضلالة بعد اكتواءٍ وشَوْبٍ من فسادٍ، نسأل الله العافية، ثم يؤول أمرُهم إلى اضمحلال وزوال.
وقد حكى لنا مرة بعض التائبين منهم ممن منّ الله عليهم بالهداية بعد أن قطع شوطا طويلا معهم، وهذا شيء قليلٌ في العادة، حكى لنا أنهم وصلوا إلى حالات من الشك في الله تعالى وفي محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم ورسالته وفي القرآن.!! نعم والله، فإنهم من شدّة التنطع والتشدد في الدين والغلوّ لا يرضون برحمة الله الواسعة ولا يقبلون منة الله ولطفه، بل يظلون يشددون على أنفسهم ويتنطعون فيهلكون بأن يتسلّط عليهم الشيطان والوسواس، فيظلون يشكون في أنفسهم كل لحظة، ويصبح الرجل منهم ويقول: أنا كنت بالأمس كافراً، واليوم أسلمتُ من جديد، ويكفر الرجل منهم أخاه في المجلس ثم يعود فيحكم عليه بالإسلام، ثم يكفره عدة مراتٍ، والآخر يقول: نعم أنا كفرت قبل قليل والآن أنا أرجع إلى الإسلام، ويكفر الرجل أهله وزوجه وولده كل يوم، وتحصل عندهم من المفاسد الاجتماعية والإنسانية ما لا يقدرون -مع طول الوقت- على الصبر عليه، لأنهم أوقعوا أنفسهم في التشديد والحرج والضيق وما لا تقوى نفوس البشر في العادة على تحمّله على دوام الأزمان، ولم يقبلوا منّة الله عليهم بالتوسعة والتيسير، بل شددوا فشدد الله عليهم.
فيحصل أن يصل بعضهم إلى حالات الكفر الصريح بالله تعالى وبالأنبياء ورسالات الله عز وجل.
ويصل إلى سب الله تعالى رأساً..! والعياذ بالله تعالى من هذه الأحوال الرديّة.
ويصل بعضهم إلى حالات يأس وقنوط، وإلى الانتحار..!
والسبب الظاهر المباشر لذلك -والله تعالى أعلم- هو كثرة وقوة مناقضة الفطرة ودين الفطرة (الإسلام دينُ الفطرة).. وكثرة وقوة التضييق على النفس حتى تملّ وتعيى وتتعب وتصير تتفلت وتنفر ولا تقوى على حمل تكاليف الدين، ثم تصير إلى أنواع من الحيل الشريرة والتأويلات الفاسدة غير المستساغة.. وكثرة وقوة مناقضة ظواهر الشريعة ودلالاتها المتنوعة على الحقائق، فيحصل عندهم في البداية نوعٌ من المكابرة ثم يكتشفون أدلة أخرى وتعترضهم إشكالات تتكاثر عليهم وتغلبهم ويحيرون في الجواب ويزدادون في المكابرة ولاسيما إن كان الواحدُ منهم رأساً في فرقته وجماعته متبوعا قد تصدّر وصار له أتباع وأقوال ومذهبٌ، فيصعب عليه الرجوع إلى الحق، وهذا من معنى قوله تعالى: ﴿واعلموا أن الله يحولُ بين المرء وقلبه﴾، وهكذا يحصل عند الواحدِ منهم تأنيبُ ضمير ويشعر بقوة التناقض في نفسه، فقد يصل إلى حالات قصوى من المرض النفسيّ والخبلِ أو يصيرُ إلى الزندقة المحضة والكفر بالله العظيم، والعياذ بالله.
ومن أمثلة التناقضات التي تعترضهم باستمرار:

Ÿ  تكفيرهم لعموم المسلمين بما فيهم خيارُهم من العُبّاد والزهاد والمجاهدين والاستشهاديين وأهل العلم والدعوة والبذل في سبيل الله تعالى، يكفرونهم كلهم، ولا يحكمون إلا بإسلام نفرٍ قليل هم جماعتهم ومَن كان مثلهم فقط، بل ويحكمون بكفر سائر الأمة في قرونها المتأخرة، وهم يجدون في الأحاديث النبوية وظواهر الشريعة أن أمة الإسلام لايزال نسلها مستمرا باقيا إلى قربِ قيام الساعة حين يأذن الله تعالى بأخذ أرواح كل أهل الإيمان، ويجدون في الأحاديث مدحا لبعض أعصُر الأمة وأزمنتهم وأمكنتها والإخبار ببقاء الإسلام والإيمان والصلاح فيها وفي أهلها، وأحاديث الطائفة المنصورة الظاهرة على أعدائها وأنها لن تزال قائمة موجودة إلى قيام الساعة، وغير ذلك كثير جدا، فيحصل عندهم تناقض كبيرٌ وتأنيبٌ للضمير مُمرضٌ مهلكٌ.!

#05_Kontradiksi Pada diri Mereka


________________________________________


Mereka mengkafirkan banyak dari ulama-ulama besar yang sholih, berilmu tinggi, ahli di bidang tahqiq (penelitian, pengkajian dan penyimpulan). Namun di sisi lain mereka membandingkan diri mereka itu tdk lebih pintar dari ulama-ulama yang dikafirkan tersebut, justru merasa kalau mereka masih butuh ulama-ulama tersebut.

Ketika mereka mengkafirkan seluruh umat islam pada abad-abad tertentu, mereka menjadi was-was tentang ajaran islam sendiri yang ada pada mereka. Karena ajaran islam yang sampai kepada mereka (kelompok khowarij Abu Mariya alMukhlif) dan yang mereka jalankan adalah ajaran yang otomatis melalui perantara orang-orang di abad yang mereka kafirkan tersebut.

Mereka mengagung-agungkan beberapa ulama saja yang mana menurut mereka perkataan ulama tersebut sesuai dengan pendapat mereka / bisa dijadikan dalil oleh mereka. Namun di sisi lain kadang ulama-ulama yang mereka agungkan itu juga meyelisihi pendapat mereka. Contohnya ulama dakwah Nejed yang memaafkan orang-orang yang baerbeda pendapat dengan mereka, juga berkasih sayang kepada orang-orang bodoh. 

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Teks Arab :

 ومنها: ما يرون من علامات الصلاح وحسن الإيمان كما أخبر عنه الله ورسوله صلى الله عليه وسلم في الأحاديث الكثيرة وعلامات حسن الخاتمة لكثير من المسلمين، ولا سيما المجاهدين والشهداء، ويرون صبر الصابرين وقوة إيمان ويقين المؤمنين الموقنين، والحال أنهم يحكمون عليهم جميعا بالكفر وعدم الإسلام، فيظلون في تناقض كبير لا يعلمه إلا الله، ولا يمكنهم -في قرارة أنفسهم- دفعُـه لكثرته وقوة دلالته وفطريته.!
Ÿ  ومنها تكفيرهم لعموم علماء الأمة وفيهم العلماء الكبار أهل الصلاح والصدق والفهم والتحقيق، في حين أنهم ينظرون إلى أنفسهم عند المقايسة فيجدون أنفسهم جهلة عالة على هؤلاء العلماء.!
Ÿ  ومنها التناقض من جهة أنهم حين يكفرون عامة قرون الأمة المتأخرة إلا نفرا قليلا، يحصل عندهم وسواسٌ وشك في صحة نقل الدين ووصوله إليهم، فإن الدين (القرآن والسنة وشروحهما، وما في معناهما من الإجماعات والأقيسة الصحيحة، وكذا آدوات فهمهما كاللغة العربية وعامة علوم الآلة) إنما وصلت إليهم بواسطة هذه القرون لا محالة، فإذا كانوا كفارا فكيف يؤتمنون على نقل الدين وشروحه، فيحصل عندهم تناقضٌ كالذي يحصل عند الروافض المارقين، فإما أن يهتدي الواحدُ منهم أو يتزندق، والعياذ بالله.!

Ÿ  ومنها أنهم يكتشفون كل يومٍ أدلة جديدة تناقض مذهبهم فيتعسّفون في ردها، لكن تغلبهم مع كثرتها وقوتها وتظافرها..! ولا يكون منهم إلا المكابرة تلوَ المكابرة حتى يستيقنوا في قرارة أنفسهم أنهم مكابرون، ولكن يطبع الله على قلوب كثير منهم فهم لا يرجعون، ومن ذلك ما يطلعون عليه مثلا من أقوال لبعض علماء الدعوة النجدية الذين يعظمونهم في أول الأمر، ثم يكفرونهم (لايبعُد أن يكفرهم المخلف فيما بعدُ إن استمر على هذا الطريق ولم يتداركه الله برحمته) تخالف ما ذهبوا إليه، بل وأقوالٍ للشيخ محمد بن عبد الوهاب نفسه، بل وشيخ الإسلام ابن تيمية، وغيره من العلماء والأئمة، ومن ذلك ما يرونه منهم إما من نصوص كلامهم أو من مسطور سيَرهم من سماحةٍ وإعذارٍ للمخالفِ ورحمة بالجاهلين، فيظلون زمناً يتعسّفون في ليّ أعناق أقوالهم ومواقفهم المحكمة، لكن يضعف في قلوبهم احترامُهم ومحبتهم، ثم ينتقلون إلى التشكيك فيهم، ويهابون تكفيرهم زمناً، لأن عامة ضلالتهم انبنت على فهمٍ سيّءٍ لأقوال هؤلاء الأئمة، ويخافون من ظهور تناقضهم والافتضاح أمام الناس، ثم قد يصلون إلى درجة لا يبالون بشيء ويكفرونهم كما ذكرنا.

#06_Syariat Islam Cenderung untuk Memberikan Udzur


_______________________________

Lama-lama mereka akan menemukan sendiri bahwa pendapat mereka sangat bertentangan dengan syariat islam

Bahwa syariat islam itu lebih cenderung untuk memberikan udzur, memberikan keringanan dan kemudahan

Anda tidak akan mendapatkan seorang pun pelaku bid’ah dalam agama kecuali di dalam hatinya merasa sesak terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang menyelisihi bid’ahnya

::::::::::::::::::::::::::::::::

Lanjutan beberapa contoh kontradiksi yang dialami oleh kelompoknya Abu mAryam al Mukhlif dan para pengikutnya.
6. Seiring perjalanan waktu, mereka akan menemukan pendapat-pendapat yang mereka ikuti tersebut sangat banyak dan sangat kuat menyelisihi tujuan-tujuan dan pokok-pokok syariat Islam (maqashidu asy-syari’ah) dan pokok-pokok ajaran agama Islam (ushulud dien) yang telah ditetapkan dengan beragam dilalah (penunjukan suatu dalil syar’i terhadap suatu hukum atau perkara) yang bukan nash.[1], bukan teks tegas, tapi dari pemahaman.

Kalau direnungkan, dalam ilmu ushul fiqh akan ada teori yang namanya “Qowaid Lughah” (kaidah-kaidah bahasa), ada juga “Qowaid Syar’iyah” (kaidah-kaidah syariat). Kaidah Lughah itu contohnya dalam ayat atau hadits itu pasti ada 2 unsur, unsur mantuk (sesuatu yang tersurat) dan ada unsur mafhum (sesuatu yang tersirat, yang dibalik lafal itu). Unsur mafhum tidak disebutkan dalam lafal tapi sudah masuk dalam kandungan ayat itu.

Contohnya dalam ayat “wa laa taqrobuzzina”, janganlah kalian mendekati zina. Mantuknya/ tersuratnya adalah yang dilarang yang mendekati zina saja, kalau zina betulan belum disebutkan. Nah yang itu tidak disebutkan secara nash, tapi disebutkan secara mafhum/ pemahaman, tersirat. Kalau mendekati zina saja tidak boleh, apalagi yang melakukan zina betulan.

Contoh lainnya “wa laa taqullahuma uf”, janganlah kalian mengatakan kepada kedua orang tua kalian ungkapan yang menunjukkan kejengkelan, tidak adanya penghormatan. Di ayat ini disebutkan yang dilarang ucapan itu (uh, cis, dll), ini namanya nash. Tapi dibalik nash ini ada dhilalah/ cara lain untuk memahami ayat ini yaitu mafhum muwafaqoh. Mengatakan cis saja dilarang apalagi menyakiti yang lebih berat. 

Nah, maka ini perlu dipahami bahwa syari’at (ayat dan hadits) itu tidak harus menunjukan sesuatu itu dengan lafal, tekas nash saja, tapi cara lain untuk memahami itu banyak. Maka ada mantuk dan mafhum, dilihat dari satu ayat atau hadits itu mempunyai berapa makna, nanti dibagi lagi menjadi nash yang mempunyai satu makna saja yang tidak mungkin mempunyai makna lain. Contohnya hadits “wahai Rasulullah, apakah ada kewajiban atas kami yang lain selain shalat lima waktu itu? Rasul menjawab “tidak ada, kecuali jika kalian mau shalat sunnah”. Berarti di situ itu nash, shalat yang wajib itu lima waktu, tidak mungkin ditafsirkan enam-tujuh waktu. Itu namanya nash. Ada lagi dibawah nash itu namanya dhahir, yaitu sebuah ayat atau hadits punya banyak makna, tapi makna yang kelihatannya sekilas jika kita baca langsung bisa dipahami dan makna yang paling kuat itu namanya dhahir. Dibalik dhahir itu ada makna-makna lain yang mungkin lebih lemah (muawwal). Nanti adalagi dari sisi luasnya cakupan, nanti ada pembagian makna yang mutlak (umum sekali) dan ada yang muqayyad (dibatasi dengan beberapa sifat). Nanti ada lagi yang namanya ‘Aam (menunjukkan makna umum), adalagi Khos (makna khusus). Nanti ada ‘aam itu yang ditaksis lagi. Jadi banyak cara dalam memahami ayat dan hadits, tidak musti mencari sesuatu itu harus ada dalilnya nash.

Mereka mendapati syariat Islam lebih cenderung dan menyukai pemberian udzur. Syariat Islam banyak memuji dan banyak menganjurkan untuk memberikan udzur.

Jika kita baca ayat-ayat dan hadits maka akan seperti itu, Allah itu mempunyai sifat “Rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku” yang banyak disebutkan dalam hadits seperti itu. Allah mempunyai 100 rahmat, satu diturunkan di muka bumi dan yang 99 di akhirat. Mereka akan menemukan hadits-hadits seperti itu, bahwa syariat itu cenderung untuk memberikan udzur daripada tidak memberikan udzur.
Seperti disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَلَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللهِ، مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ أَنْزَلَ الْكِتَابَ وَأَرْسَلَ الرُّسُلَ
“Tiada seorang pun yang lebih menyukai pemberian udzur selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, oleh karena itu Allah menurunkan kitab suci dan mengutus para rasul.”(Hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dengan lafal Muslim)

Sebagaimana hadits ini disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari-Muslim diawali dengan kisah tentang ghirah, tentang kecemburuan. Ada sahabat bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah apa yang harus aku lakukan jika saya masuk ke dalam rumah, ke dalam kamar lalu saya dapati seorang laki-laki di atas istri saya di atas ranjang. Lalu Rasul bertanya, apakah kalian heran dengan kecemburuan Saad bin Abi Waqas? Allah lebih cemburu lagi dari pada cemburunya Saad. Namun sekalipun Allah memiliki sifat kecemburuan yang sangat tinggi (tentu yang layak dengan kesempurnaan Allah), tapi Allah juga pemaaf.

Hadist itu kata Syaikh Shadiq bin Abdullah cara memahaminya seperti itu, kenapa masalah udzur ini dikaitkan dengan masalah cemburu? Jika manusia cemburu dengan istrinya berzina dengan laki-laki lain langsung dia bunuh, dan Allah itu tiap hari ‘disakiti’ oleh makhluknya. Sudah dikasih makan, ini dan itu tapi masih saja ada orang yang berbuat syirik, kufur, dan maksiat. Allah cemburu, marah, tapi Allah tidak langsung menghukum mereka. Tapi Allah adalah Dzat yang paling memberi maaf. Diturunkan kitab suci, diutus para Rasul untuk menegakkan hujjah. Tidak sekedar berbuat syitik dan kufur lalu Allah langsung memvonis. Allahu’alam bis showwab..

Sebagaimana juga syariat Islam juga lebih menyukai untuk memudahkan dan meringankan, sementara mereka justru bersikap sebaliknya. Kita ingat sebelum Rasulullah wafat tahun 10 H beliau mengirim beberapa sahabat untuk berdakwah ke Yaman. Pertama sahabat Mu’adz bin Jabal kemudia ‘Ali bin Abi Thalib dan ...(lupa). Dan Allah berpesan kepada mereka “permudahlah jangan dipersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari”. Inilah pesan beliau sebelum wafat kepada para dai yang beliau kirim ke daerah-daerah. Jika kita baca ayat Al Qur’an banyak ayat-ayat yang menerangkan bahwa syariat islam itu salah satu sifatnya adalah memberi kemudahan/ rukhsah.

Hal itu memaksa mereka lebih menekan perasaan mereka sendiri secara berulang-ulang. Sampai-sampai sebagian mereka tidak suka jika mendengarkan atau membaca ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang berbicara tentang memudahkan, memberi udzur, meringankan dan lain-lain! Padahal jika kita baca, ayat-ayat seperti itu banyak sekali bahwa orang itu masuk Islam betapa sederhananya. Contohnya seperti Rasululloh mempunyai seorang pembantu anak kecil. Kerjanya sebagaimana Anas bin Malik, membantu Rasulullah, tapi api dia seorang yahudi. Setiap hari membantu Rasulullah. Suatu hari anak kecil ini sakit parah mau sakaratul maut. Rasulullah menjeguk dan berkata kepadanya “masuk islamlah kamu maka kamu akan selamat”. Maka dia melihat ke arah bapak-ibunya, menggambarkan “bagaimana ini?” Maka bapaknya bilang “taatilah Abu Qasim (Rasulullah)”. Maka dia mengucapkan Syahadat dan lalu menghembuskan nafas yang terakhir. Dan Rasulullah bersabda “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan beliau dari api neraka”. Dan ini padahal masuk Islam bukan karena dibacakan ayat Al Qur’an ataupun hadits, tapi nurut denagn bapaknya tadi. Dan bapaknya pun tidak membacakan ayat taurat yang menyebutkan bahwa Muhammad itu nabi.

Ini sebetulnya taqlid, tapi kenapa juga ulama bilang tidak ada taqlid dalam masalah tauhid. Tapi anak kecil ini masuk Islam , tauhid. Jika ulama bilang seperti itu maka harus kita lihat apakah benar praktiknya pada masa Rasulullah apakah orang masuk Islam itu harus paham dalil semua. Betapa banyak orang masuk Islam itu dengan tidak memahami dalil-dalil. Kadang dia hanya melihat akhlak Rasulullah, kejujuran dalam muamalahnya.

Ada orang yahudi mempunyai piutang kepada Rasulullah. Lalu dia menagih Rasulullah dengan menarik syal Rasulullah dengan keras sampai membekas di leher beliau sampai para sahabat marah, namun Rasulullah sabar. Beliau perintahkan sahabat untuk mengambilkan pembayaran hutang itu dengan malah memberikan kelebihan (bukan riba). Dan dengan perantara seperti itu orang yahudi itu akhirnya masuk Islam, bukan karena pembacaan ayat dan hadits, tapi melihat akhlak Rasulullah.

Ada juga dalam hadits shahih Bukhari-Muslim, namanya Tsumamah bin Utsal, pemimpin suku hanifah. Dia orang musyrik mau beragkat ke Mekah untuk umrah dengan membawa unta dan ditangkap oleh para sahabat yang ditugaskan Rasulullah untuk patroli. Dan dia diikat di tiang masjid selama tiga hari tiga malam, dilepas pada saat makan atau BAB. Pagi ba’da subuh ditanya Rasulullah bagaimana kabarnya, apa yang dia butuhkan. Dia berkata wahai Muhammad jika enngkau akan membunuhku memang engkau layak karena aku punya permusuhan kepadamu, tapi jika engkau minta tebusan, aku ini kepala suku dan sanggup membayar tebusan yang banyak. Besoknya lagi seperti itu, tiga hari berturut-turut. Sampai hari ketiga tidak ada perubahan, maka diperintahkan para sahabat untuk melepasnya. Lalu Tsumamah pergi dan datang lagi ke masjid dgn keadaan sudah mandi lalu menyatakan syahadat. Dia mengatakan “saya ini tidak mau masuk Islam pada masa tiga hari itu karena saya khawatir orang-orang akan salah faham dikiranya saya masuk Islam karena takut. Ingin menyelamatkan nyawa dan harta”. Padahal dia masuk Islam itu karena dia melihat lima kali orang-orang Islam dengan beragam profesi, status sosial, dll bisa bersatu dalam shof yang rapi, ruku’ bareng, takbir bareng. Kekompakan, kesamarataan, tidak ada kelas-kelas sosial itulah yang membuat dia terharu dan akhirnya masuk Islam. Sama sekali tidak ada pembacaan ayat-ayat tauhid.

Dan masih banyak ribuan orang masuk Islam dengan cara seperti itu. Islam memberikan kemudahan dan jika dikumpulkan, hadits seperti itu sangatlah banyak. Dan mereka tidak kuat menahan, mendengarkan ayat ataupun hadits seperti itu. Padahal itu praktik, amaliyat di zaman Rasulullah.

Inilah kondisi pelaku bid’ah dan kefasikan (kefasikan adalah keluar (melanggar) dari ketaatan kepada Allah dan jalan-Nya yang lurus), ia merasa sempit dan sesak terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits yang menyelisihi bid’ah dan kefasikannya. Maka ia termasuk dalam makna golongan yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Kemudian mereka tidak mendapatkan dalam diri mereka rasa sempit (keberatan) atas keputusan yang engkau (Rasulullah) tetapkan dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya.”(QS. An-Nisa’ [4]: 65)

Dalam ayat ini bahwa syarat orang beriman salah satunya adalah tauhidul muttaba’ah (tauhid ittiba’), hanya ittiba’ kepada Rasulullah.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah telah menyebutkan masalah ini dalam sebagian bukunya. Dalam bukunya yang berjudul Ijtima’u Al-Juyusy Al-Islamiyah, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengutip dari Imam Ibnu Abi Hatim dalam kitabnya As-Sunnah dan Imam Abdullah bin Ahmad bin Hambal dalam kitabnya yang juga bernama As-Sunnah, keduanya meriwayatkan bahwa Jahm bin Shafwan membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
”Yaitu Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.”(QS. Thaha [20]: 5)

Maka Jahm bin Shafwan berkata, “Seandainya aku menemukan cara untuk menghapus ayat ini dari mushaf Al-Qur’an, tentu akan akan melakukannya.” Maunya dia itu tidak mau ada ayat ini di dalam Al Qur’an karena dia tidak percaya bahwa Allah itu istiwa’ di atas Arsy. Dalam riwayat lain disebutkan “bukan seperti ini tuhan yang kami inginkan”. Seperti orang-orang JIL, ada sunami yang mati banyak dan mereka bilang bahwa kita tidak butuh tuhan yang kejam.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kesehatan, keselamatan dan keteguhan di atas kebenaran. Aamiin.

Saat membahas tentang sikap menjauhi Al-Qur’an, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Al-Fawaid menulis:

“Demikian pula halnya dengan rasa sempit dalam jiwa terhadap Al-Qur’an. Hal itu terkadang terjadi karena ia merasa sesak disebabkan Al-Qur’an adalah kebenaran dan diturunkan dari sisi Allah. Terkadang disebabkan Allah berbicara dengannya atau anggapan ia adalah salah satu makhluk-Nya yang Allah ilhamkan kepada selain-Nya untuk berbicara dengannya.

Debat panjang lebar apakah Al Qur’an itu makhluk apa bukan, apakah hurufnya makhluk atau bukan. Debat yang sifatnya akal maka tidak akan menambah iman sedikitpun. Orang-orang mu’tazilah kemudian diikuti orang-orang muttakalimin, asy’ariyah maturidiyyah.

Terkadang disebabkan (keraguan bahwa) Al-Qur’an telah mencukupi atau belum, dan (anggapan) bahwa Al-Qur’an belum cukup bagi hamba-hamba-Nya. Mereka meyakini bahwa makhluk-makhluk Allah masih memerlukan hasil-hasil akal, logika-logika, pendapat-pendapat atau siasat-siasat.

Terkadang sempitnya hati oleh sebab sisi penunjukan lafal-lafalnya terhadap makna-makna yang sesungguhnya saat lafal tersebut diucapkan ataukah makna lafal-lafal tersebut hendak dita’wilkan dan dikeluarkan dari makna-makna sebenarnya kepada ta’wilan-ta’wilan yang dibenci dan memiliki banyak makna. Terkadang oleh sebab makna-makna yang sesungguhnya tersebut sekalipun maknanya telah teguh, namun diperdebatkan lagi apakah ia yang dimaksudkan sendiri ataukah mengesankan ia yang dimaksudkan karena sebuah maslahat tertentu?

Mereka semua, dalam hati mereka merasakan sesak dan sempit dari Al-Qur’an. Mereka mengetahui hal itu dari hati mereka dan mereka mendapatkannya dalam dada mereka. Anda tidak akan mendapatkan seorang pun pelaku bid’ah dalam agama kecuali di dalam hatinya merasa sesak terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang menyelisihi bid’ahnya. Sebagaimana Anda tidak akan mendapatkan seorang pun orang yang zalim dan pendosa kecuali dadanya akan merasa sesak terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang menghalangi dirinya dari meraih hawa nafsunya. Maka renungkanlah secara mendalam makna ini, kemudian sukailah untuk dirimu sendiri apa yang engkau inginkan.”[2]

Pemabuk paling tidak suka ayat tentang khamer, pecandu narkoba akan lari jika dibacakan ayat Al Maidah 91-92, penguasa sekuler dibacakan tentang menetapkan hukum Allah akan sesak, dll. Karen ayat-ayat itu mencegah dia untuk mengejar apa yang dia inginkan, hawa nafsuny terhalangi.




[1]. Dalam ilmu ushul fiqih, sebuah lafal dalam ayat Al-Qur’an dan hadits nabawi dari sisi penunjukkannya terhadap sebuah makna dibagi menjadi dua bagian: wadhih ad-dilalah dan ghairu wadhih ad-dilalah. Wadhih ad-dilalah (penunjukan yang jelas terhadap sebuah makna) diklasifikasikan lagi menjadi empat, yaitu zhahir, nash, mufassar dan muhkam. Adapun ghairu wadhih ad-dilalah (penunjukannya terhadap suatu makna kurang jelas) diklasifikasikan lagi menjadi empat, yaitu khafi, musykil, mujmal dan mutasyabih.
Adapun dari sisi cara penunjukan sebuah lafal dalam ayat Al-Qur’an dan hadits nabawi kepada sebuah makna diklasifikasikan menjadi lima, yaitu ‘ibarah an-nash, isyarah an-nash, dilalah an-nash, iqtidha’ an-nash dan mafhum mukhalafah. Mafhum mukhalafah diklasifikasikan lagi menjadi lima, yaitu mafhum syarat, mafhum sifat, mafhum ghayah, mafhum ‘adad dan mafhum laqab. Pent.
[2]. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Fawaid, hlm. 82. Pent. 
Teks Arab :

Ÿ  ومنها أنهم مع مرور الوقت أيضا يكتشفون كثرة وقوة مناقضتهم لمقاصد الشرع ومبانيه وأصول الدين المتقررة بأنواع الدلالات غير النصّيّـة، فإنهم يجدون أن الشرع يميل إلى العذر ويتشوّف إليه، ويكثر من مدحه والحث عليه، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: "وليس أحدٌ أحبَّ إليه العذرُ من الله من أجل ذلك أنزل الكتاب وأرسل الرسل" (متفق عليه وهذا لفظ مسلم)، كما يتشوّف إلى التيسير والسهولة والتخفيف، وهم بعكس ذلك كله، فيوجب لهم ذلك تأنيب ضمير مضافا ومكرراً، حتى ليصل الحالُ ببعضهم إلى أن يكره أن يسمع أو يقرأ من القرآن والحديث آيات وأحاديث التيسير والعذر والتخفيف ونحو ذلك..!
وهذا هو شأن صاحب البدعة والفسوق (وهو الخروج عن طاعة الله تعالى وصراطه المستقيم) أنه يصير عنده حرجٌ من الآيات والأحاديث التي تخالف بدعته وفسقه، فيدخل بذلك تحت طائلة قول الله عز وجل: ﴿ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجاً مما قضيتَ ويسلموا تسليماً﴾، وقد ذكر هذه الفائدة ابنُ القيم في بعض كتبه، ونقل في كتابه اجتماع الجيوش الإسلامية عن ابن أبي حاتم وعبد الله بن الإمام أحمد في كتابيهما السنة، أنهما رويا عن الجهم بن صفوان أنه تلا قوله تعالى ﴿الرحمن على العرش استوى﴾ فقال: لو وجدتُ السبيلَ إلى أن أحكها من الصحف لفعلتُ.
نسأل الله العافية والسلامة والتثبيت على الحق.. آمين

قال ابن القيم رحمه الله في كتابه الفوائد، عند كلامه على أنواع هجر القرآن: ((وكذلك الحرجُ الذي في الصدور منه، فإنه تارة يكون حرجا من إنزاله وكونه حقا من عند الله، وتارة يكون من جهة التكلم به أو كونه مخلوقا من بعض مخلوقاته ألهم غيرَهُ أن تكلم به، وتارة يكون من جهة كفايته وعدمها وأنه لا يكفي العباد، بل هم محتاجون معه إلى المعقولات والأقيسة أو الآراء أو السياسات، وتارة يكون من جهة دلالته وما أريد به حقائقه المفهومة منه عند الخطاب أو أريد به تأويلها وإخراجها عن حقائقها إلى تأويلات مستكرهة مشتركة، وتارة يكون من جهة كون تلك الحقائق وإن كانت مرادة فهي ثابتة في نفس الأمر أو أوهم أنها مرادة لضرب من المصلحة، فكل هؤلاء في صدورهم حرج من القرآن، وهم يعلمون ذلك من نفوسهم ويجدونه في صدورهم، ولا تجد مبتدعا في دينه قط إلا وفي قلبه حرجٌ من الآيات التي تخالف بدعته كما أنك لا تجد ظالما فاجراً إلا وفي صدره حرج من الآيات التي تحول بينه وبين إرادته، فتدبر هذا المعنى ثم ارض لنفسك بما تشاء)) اهـ.

#07_Islam Adalah Agama Yang Mudah


______________________________________

Islam agama yang toleran, mudah..

“Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena sikap berlebih-lebihan dalam agama.”
(HR. Ahmad, An-Nasai dan lain-lain)

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.” 
(QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Alloh Maha Penyayang dan Maha Lembut, memberikan kemudahan untuk hambanya. 
Alloh memberikan beban kepada hambanya sesuai kesanggupan manusia normal.

Dan bagaimana dakwah itu pertama menyentuh hati orang sebelum menyentuh akalnya.
Dan sentuhan itu adalah bukan dengan dalil, tapi dengan pergaulan, akhlak

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Pembahasan
Semua hal itu, wahai saudara-saudaraku, adalah bukti kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
«هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ» قَالَهَا ثَلَاثًا
“Binasalah orang-orang yang melampaui batas.” Beliau bersabda demikian sebanyak tiga kali. (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Daud)

Pengarang An-Nihayah fi Gharibil Hadits berkata, “Mereka adalah orang-orang yang suka berlebih-lebihan dalam berbicara, orang-orang yang berbicara dengan ujung kerongkongan mereka. Kata ini diambil dari kata dasar an-nath’ yang merupakan celah (lubang) bagian atas mulut, kemudian istilah ini dipergunakan untuk menyebut setiap hal yang berlebih-lebihan, baik berupa ucapan maupun perbuatan.”

Para ulama menyatakan bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sebuah berita ataupun sebuah doa. Jika ia berupa doa, maka doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti akan dikabulkan Allah. Adapun jika ia berupa berita, maka berita Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti benar, tidak dusta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa mereka akan binasa, maka pasti hal itu akan terjadi. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari hal itu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama ini mudah dan tidak ada seorang pun yang memberat-beratkan diri dalam agama, melainkan agama akan mengalahkannya.” (HR. Bukhari dan An-Nasai)

Maksudnya, agama pasti mengalahkannya, sehingga manusia menjadi kalah, tidak sanggup mengemban dan melaksanakan agama ini. Kenapa? Karena ia memberat-beratkan diri dalam agama, maksudnya ia mengambil dan menerima agama ini dengan keras, ia berusaha untuk mengalahkan agama agar ia bisa kuat (keras) dalam agama dan bersama agama, padahal Islam adalah agama yang mudah, gampang dan toleran.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena sikap berlebih-lebihan dalam agama.”(HR. Ahmad, An-Nasai dan lain-lain)

Lihatlah, bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa sebab kehancuran umat-umat terdahulu adalah mereka berlebih-lebihan dalam agama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ

“Aku diutus dengan agama yang lurus dan toleran.”(HR. Ahmad dan Ath-Thabarani)

Islam adalah agama yang toleran, mudah dan gampang. Dalam agama Islam tidak ada kesulitan yang di luar kesanggupan manusia normal, yang menyebabkan seorang muslim berada dalam kesempitan dan kesukaran, kelelahan. Hal itu sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Dan berjihadlah kalian pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kalian (menjadi orang-orang berima  yang memiliha kalian menjadi seorang muslim dilahirkan dari bapak-ibu yang muslim, dari lingkungan yang mayoritasnya muslim, itu sebuah karunia dari Allah. Jika Allah lahirkan kita di Manado misalkan, lain ceritanya. Bapak-ibu kristen, lingkungannya kristen bisa-bisa kita seusia sampai dewasa sekarang masih jadi orang kristen) dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan (baik dalam masalah aqidah, ibadah, akhlak, perundang-undangan, pribadi, keluarga, dll). (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kalian sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas diri kalian dan supaya kalian semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpegang teguhlah kalian pada tali Allah. [ dalam Al Qur’an itu ada 2, wa’tasimu billah dan wa’tasimu bi khablillah. Masing-masing ada pengertiannya sendiri.Jika kita baca dalam Madarijus Shalihin, dari sekian puluh madrat/ anak tangga menuju ridha Allah/ penghambaan kepada Allah bahwa salah satu tangganyanamanya manzilatul i’tisham, bisa dibaca sendiri ]Dia adalah Pelindung kalian, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS. Al-Hajj [22]: 78)

Dan firman-Nya:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Kalau ada kesulitan/ kesempitan berarti kitanya yang mesti keliru, menyalahi, bukan agamanya. Karena se-masyaqqoh apapun dalam Islam ini, termasuk jihad, amar ma’ruf nahi munkar, dll itu masih dalam tahap/taraf kemampuan manusia untuk memikulnya. Allah buat banyak keringanan-keringanan termasuk dalam masalah jihad. Ada dalam QS. Al Anfal disebutkan bahwa masa kuat disebutkan 1:10, tapi kalau masa lemah 1:2. Ada ayat lagi yang lebih awal lagi tentang boleh mundur untuk nyusun kekuatan untuk bergabung untuk induk pasukan. Ada lagi tentang bolehnya mengadakan genjatan senjata/ perjanjian damai kalau maslahat menuntut begitu.

Dan masih banyak keringanan-keringanan dalam agama ini. Dan jika jihad ini dirasa diluar kemampuan kita maka pasti yang salah bukan jihadnya, tapi kita yang salah memahami syariat jihad. Termasuk juga amar ma’ruf nahi munkar, ada amar ma’ruf yang harus dikerjakan, ada yang harus ditinggalkan, ada yang disunnahkan, dan ada yang menjadi perbedaan pendapat boleh ataukah tidak boleh yang sudah dibahas oleh para ulama dalam maslah fiqih. Maka kesempitan dalam masalah agama ini sebetulnya tidak ada sama sekali.

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Ada pengulanagn dalam hadits diatas, artinya tekanan yang menguatkan kalimat sebelumnya, disebutkan oleh para ulama, mungkin mirip dengan hadits “yassira wa laa tu assiru..”_Berilah kemudahan, mengapa setelah lafal “berilah kemudahan” ada lagi “wa laa tu assiru, dan jangan mempersulit”. Karena jika perintahnya “yassiru saja”, disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim bahwa jika perintahnya sekali saja maka orang nati akan memberi kemudahan sekali-dua kali, setelah itu mempersulit. Tapi setelah “yassiru” ditambah lagi perintahnya “wa laa tuassiru, janga dipersulit” maka orang tidak akan ada peluang untuk mempersulit. Seperti juga “bashira wa laa tu naffiru”, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari. Jika perintahnya “berilah kabar gembira” saja, satu-dua-tiga empat kali pertemuan membuat orang tertawa, habis itu buat orang bubar, maka digandengkan. Sama seperti “yuridullahu bi kumuyusra” habis itu masih ditekankan lagi ada kalimat “wa laa yuridullahu bi kumuyyusra”.

 Dan firman-Nya:
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepada kalian. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. Al-Baqarah [2]: 220)

Dua sifat yang kalau kita baca dari kalau tidak salahh muqadimah atau bagian akhir tafsirnya Syaikh Assa’di . Ada kaidah-kaidah yang memudahkan kita untuk memahami Al Qur’an. Salah satunya kaidah dalam memahami nama-nama dan sifat Allah dalam Al Qur’an. Bagaimaana Allah itu memilih nama dan sifat digandeng-gandengkan, untuk kondisi begini maka nama dan sifat yang dipakai seperti ini. Seperti dalam ayat ini “Al ‘Aziz_Maha Kuat/ Maha Memiliki Izzah? Kekuatan Sepenuhnya” tapi juga digandengkan denngan “Al Hakim_Hikmah/ menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang layak”. Jadi jika digabungkan bagaimana Allah itu dengan kekuasaannya tidak sewenang-wenang, tapi Allah tempatkan segala sesuatunya pada posisinya yang sesuai.

Maksudnya niscaya Allah akan mencampakkan kalian dalam al-‘anat, yaitu kesempitan, kesulitan dan beban berat yang mengalahkan kemampuan kalian. Namun Allah tidak melakukan hal itu kepada kalian. Allah Maha Penyayang lagi Maha Lembut, memberikan kemudahan kepada kalian, Allah tidak membebani kalian kecuali amal-amal kalian sanggupi dalam kondisi normal manusia. Maka segala puji hanya milik Allah Rabb seluruh alam.

Dalam hadits dikisahkan ada seorang pengemis perempuan dengan membawa 2 orang anaknya datang kepada ‘Aisyah untuk minta sedekah. Dan ‘Aisyah adanya Cuma beberapa biji kurma dan dikasihkan. Bagaimana anak-anaknya itu sudah dikasih dan ibunya pegang satu, masih dia bagi untuk kedua anaknya. Menggambarkan lembut kasih-sayangnya seperti itu seorang ibu. Dan kasih sayang serta kelembutan Allah kepada hamba-Nya itu lebih dari kasih sayang serta kelembutan ibu kepada anak-anaknya itu. Dan saking lembutnya itu, Allah memberi kesempatan sekian panjangnya kepada hambanya itu untuk bertaubat sampai pintu taubat itu dibuka membentang dari timur sampai ke barat, dan baru ditutup sampai matahari terbit dari barat.

Untuk makna Rabb yang paling menonjol adalah tarbiyah, menjadikan sesuatu secara bertahap dari kondisi ke kondisi lain sampai taraf sempurna, diawasi, dirawat. Sebagaimana dijelaskan bagaimana orang tua itu mendidik anaknya itu dari dalam kandungan, sampai dia besar, sampai nikah, bahkan sampai habis nikahpun masih tetap diurus. Seperti itu juga Allah, namun Allah lebih mulia dan sempurna pendidikan-Nya dalam mengurus seluruh makhluk-Nya. “Dialah Allah yang telah menciptakan kemudian menyempurnakan ciptaan-Nya, kemudian Allah tetapkan kebutuhan seluruh makhluk-Nya dan Allah beri hidayah kepada mereka semua untuk mencapai semua yang mereka butuhkan dalam hidup.

Dan firman-Nya:
وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ

“Dan ketahuilah oleh kalian bahwa di kalangan kalian ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kalian dalam beberapa urusan niscaya kalian benar-benar akan mendapat kesusahan.”(QS. Al-Hujurat [49]: 7) maksudnya niscaya kalian terjatuh dalam al-‘anat, yaitu kesempitan dan kesusahan yang sangat berat. Allah kemudian berfirman:

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Akan tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.”(QS. Al-Hujurat [49]: 7)

Sebenarnya kita beriman ini nikmat berkali-kali dari Allah, bahkan jika orang  berbuat dosapun disebutkan oleh para ulama bahwa seorang hamba itu dikelilingi oleh 2 nikmat dari Allah meski ketika dia berbuat dosa sekalipun. Yaitu nikmat ditunjukkan jalan untuk bertaubat dan nikamt untuk diterima taubatnya. Masya Allah..

“Allah jadikan kalian cinta kepada keimanan”, jadi sebenarnya hati kita, cinta kita kepada keimanan itu mungkin kecil, namun Allah-lah yang menjadikan hati kita dari hari ke hari cinta kepada keimanan bisa membesar. Allah hiasi, nampakkan indah keimanan itu dalam hati kalian. Ini juga nikmat tersendiri, sebenarnya yang hhebat itu bukan amal kita, bukan taklim kita, tapi Allah-lah yang memberikan hidayah kepada kita. Allah-lah yang enjadikan iman itu terasa manis dan indah dalam hati kita.

Maka ada seorangg ulama ikhwanul muslimin di Mesir itu, Syaikh Abbas as Sisi, mengarang buku dalam bahasa arab judulnya “Aththariq ilal Qulub”_Jalan Menuju Hati, bagaimana cara kita berdakwah itu bisa mendekati, menyentuh hati orang sebelum menyentuh akal sehat orang. Bagaimana masuk ke hati duluan, karena hati itu adalah pusat, markas, komandonya badan. Kalau hati sudah bisa menerima, tidak logispun akan diterima. Seperti Gusdur itu, pengikutnya sudah senang duluan, Gus Dur mau ngomong apapun akan diterima. Kita kritik apapun mmaka kritikan kita itu masuknnya ke otak, pikiran, logis-tidak logis, jika hati tidak bisa terima maka akan berat. Maka bagaimana dakwah itu yang pertama kita sentuh hatinya, dan sentuhannya itu bukan dengan dalil biasanya, tapi dengan hal-hal yang berkesaan seperti pergaulan, akhhlak, dll maka itu akan membekas. Lain dengan logika, pikiran, ini matematika yang berbicara. Disebutkan oleh beliau kisah-kisah bahwa apa yang kita usahakan ini adalah bagaimana mengenalkan iman ke dalam hati mereka. Kalau manusia itu sudah merasakan sedikit saja manisnya iman maka dia tidak akan berat menjalankan agama ini, bahkan dia akan sanggup mengorbankan apapun untuk agama ini. Makin tinggi manisnya iman dalam hati dia maka akan makin kuat juga pengorbanannya terhadap Islam. Orang rela meninggalkan keluarganya, bisnisnya, curahkan hartanya, nyawanya untuk islam itu ketika dia merasakan dalam hatinya bahwa apa yang dia kerjakan itu manis. Sampai ada nashidnya pada zaman ‘48nan, zaman-zaman Syaikh Hasan alBanna atau periode setelahnya itu menghasung umat Islam di Mesir untuk membantu Palestina. Nashidnya “min ajlika yaa Fajr al Islam”_untukmu wahai terbitnya kemenangan Islam, “kamtahlu fii darbil alam”_ betapa manisnya di jalan perjuangan ini segala bentuk derita/ kesusahan.

“serta Allah menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan.” Masya Allah, jadi bukan kita yang sebenarnya membenci, tapi Allah yang karuniakan nikmat kepada kita kebencian kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.

QS. Al Hujurat ini surat yang banyak mengingatkan umat Islam akan nikmat Allah. Kalian masuk Islam itu bukan sesuatu yang perlu kalian banggakan, kalian ungkit-ungkit. Islam ini karunia Allah kepada kalian, maka pujilah Allah dan jangan kalian banggakan keislaman kalian, hijrah kalian, i’dad kalian, jihad kalian, amar ma’ruf nahi munkar kalian

Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits nabawi tentang hal ini sangat banyak dan telah dikenal luas. Segala puji bagi Allah.

Maksudnya adalah memberi peringatan kondisi orang-orang tersebut dengan menyebutkan contoh-contoh yang semisal dengan mereka dan memberitahukan kepada saudara-saudara kita, orang-orang yang baik tentang kondisi kelompok tersebut yang buruk dan kejelekan akhir kondisi mereka, juga berbagai kontradiksi yang dalam banyak kondisi bisa menyebabkan mereka terjatuh dalam kekafiran secara terang-terangan, melesat keluar secara terang-terangan dari (ketaatan) dalam agama kepada kefasikan dan kemaksiatan secara terang-terangan.

Sudah berkali-kali dijelaskan di depan bahwa orang-orang ini terkadang sangat mudah bicara masalah urusan nyawa, harta, dan kehormatan orang lain. Jangankan sekarang, zaman generasi sahabat saja mereka bisa membunuh sahabat. Abdullah bin Khabab, dia dengan istrinya yang baru hamil jalan melewati daeerah mereka, Haururo Ahwan, Irak. Bertemu dengan mereka, di cegat, ditanya dulu aqidahnya, bagaimana sikapnya terhadap ‘Utsman, bagaimana pendapatnya tentang ‘Aisyah, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awam, Muawiyyah, ‘Ali bin Abi Thalib. Dan mereka menjaawab –intinya-mereka itu para saahabat yang mmulia, Allah sudah meridhai mereka dan merekapun ridha pada Allah dan jawaban lainnya. Jawaban itu tidak memuaskan mereka dan akhirnya mereka dikafirkan, disesatkan dan dibunuh. Tapi giliran dengan orang-orang ahlul kitab, orang Yahudi dan Nasrani punya babi mereka langsung bunuhi, tapi habis itu menyesal karena mereka pikir itu milik orang lain akhirnya malah mambayar ganti rugi.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Teks Arab :

فصــــلٌ

وكل ذلك -أيها الإخوة- مصداقٌ لحديث النبي صلى الله عليه وسلم: "هلك المتنطعون" قالها ثلاثا صلى الله عليه وآله وسلم. (رواه مسلم وأحمد وأبي داود).
قال في النهاية في غريب الحديث: "هم المتعمقون المغالون في الكلام المتكلمون بأقصى حلوقهم، مأخوذ من النطع وهو الغار الأعلى من الفم، ثم استعمل في كل تعمق قولا وفعلا"اهـ
قال العلماء: وهذا إما أن يكون دعاء أو خبراً، فإن كان دعاء فدعاؤه صلى الله عليه وسلم مستجاب، وإن كان خبراً فخبره صدق وحق لا يتخلف، فقد أخبر أنهم هالكون لامحالة.! والعياذ بالله.
وقال صلى الله عليه وسلم: "إن هذا الدينَ يسرٌ ولن يشادّ الدينَ أحدٌ إلا غلبه"(رواه البخاري والنسائي)، أي إلا غلبه الدينُ، فيصير الإنسان مغلوبا، لا يقدر على حمل هذا الدين والقيام به، لماذا؟ لأنه شادّ الدين أي أخذه وتناوله وتعاطاه بالشدة وحاول أن يغلبَ الدينَ ويكون شديدا فيه ومعه، مع أنه دينٌ يسرٌ سهلٌ سمحٌ.
وقال صلى الله عليه وسلم: "إياكم والغلو في الدين فإنما هلك من كان قبلكم بالغلو في الدين" (رواه أحمد والنسائي وغيرهما). فانظر كيف أخبر النبي صلى الله عليه وسلم أن سبب هلاك من قبلنا من الأمم غلوهم في دينهم.
وقال صلى الله عليه وسلم: "بعثتُ بالحنيفية السمحة"(رواه أحمد والطبراني)، فهو دينٌ سمحٌ سهل يسير، ليس فيه مشقة خارجة عن المعتادِ بحيث توقع المسلم في حرج وضيق وتعنّتٍ.. كما قال الله عز وجل وتبارك وتعالى:
﴿وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيداً عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ﴾ الحج78
وقال: ﴿يريد الله بكم اليسرَ ولا يريد بكم العسر﴾.
وقال عز وجل: ﴿ولو شاءَ الله لأعنتكم إن الله عزيزٌ حكيم﴾ أي لأوقعكم في العنت وهو الضيق والشدة والمشقة العظيمة القاهرة، أي ولكنه لم يفعل بل كان بكم رحيما لطيفا يسّر عليكم ولم يكلفكم إلا ما تطيقون من الأعمال في معتاد أحوال البشر، والحمد لله رب العالمين.
وقال تعالى: ﴿وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ﴾ أي لوقعتم في العنت وهو الضيق والشدة الشديدة ﴿وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ﴾ الحجرات7
والآيات والأحاديث في هذا المعنى كثيرة معروفة والحمد لله.

والمقصود التحذير من حال هؤلاء بضرب الأمثال، وتعريف إخواننا الطيبين سوءَ أحوالهم ووخامة مآلهم، وما يحتوون عليه من تناقضات تؤدي بهم إلى الكفر الصريح في كثير من الأحيان، وإلى المروق الصريح من الدين بالفسوق والعصيان الواضح.